PERUBAHAN SOSIAL DALAM SISTEM KAPITALISME MENURUT PANDANGAN TEORI MARXIST DAN POST MARXIST

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Menurut sejarahnya Marxisme memiliki dua dimensi : pertama, sebagai teori ilmiah , kedua sebagai proyek politik revolusioner , namun dalam kenyataanya kedua dimensi ini amatlah sulit untuk dipisahkan. Dan teori Surplus value, merupakan kunci terpenting usaha menginterpretasikan kapitalisme beserta sejarah panjang peradaban material , namun Karl Marx sendiri , dalam karyanya Das Kapital menawarkan analisis atau uraian mengenai sifat atau mekanisme kapitalisme , yakni : akumulasi dan ekspansi kapital , pemiskinan kelas pekerja dan krisis kelebihan – produksi, uraian-uraian ini telah memberikan landasan moral untuk melakukan perlawanan terhadap sistem kapitalis . secara ilmiah ,uraian-uraian ini menelanjangi sistem kapitalis dan dalam kaitan ideologi mendorong pemahaman atas kesengsaraan dan ekspitasi.

Marxisme sendiri pada dasarnya lahir dari ketimpangan hidup akibat sistem sistem ekonomi kapitalis; yang kaya semakin kaya tapi yang miskin semakin miskin dan terpuruk . tanpa memahami kontradiksi dalam sistem ekonomi kapitalisme itu, seseorang tak akan juga sanggup memahami kehadiran marxisme dan signifikansinya. Sebelum Marxisme lahir , sudah banyak kritik diberikan kepada sistem kapitalisme itu sendiri. Sayangnya, kritik itu bersifat utopis melupakan kontradiksi kelas yang terjadi dan sekadar berusaha merayu kelas berkuasa dalam hal ini adalah kaum borjuis untuk mengubah keadaan atau berharap perubahan akan datang dengan sendirinya atau bahkan jatuh dari langit akibat doa-doa orang shaleh. Marxisme kemudian hadir di tengah pertarungan melawan kapitalisme dengan perspektif baru, yaitu kelas . dimana menurut marx gerakan sosial yang dipelopori kelas proletar (buruh) akibat ketamakan kaum borjuis dalam sistem ekonomi akan dapat membawa perubahan sosial dan gerakan ini akan menumbangkan kaum kapitalis. pendekatan inilah yang merupakan salah satu prinsip metodologi Marxisme yang paling pokok.
Sedangkan Teori post marxist adalah Teori gerakan sosial baru yang dipelopori oleh Laclau dan Moffley . Gerakan tersebut menyebut dirinya sebagai Post-Marxisme yang telah melampaui teori marxis yang sudah usang dan tidak berlaku lagi. Post-marxisme mengingkari tentang teori kelas, yang berakibat peniadaan perjuangan kelas, serta penolakan anti-Imperialisme dan menginginkan kerja sama yang lebih besar lagi dalam mentransfer capital dan teknologi dan saling memahami antara Negara kaya dan Negara miskin. Kerena Post-Marxisme menilai bahwa Sosialisme telah gagal, komunisme Uni soviet dan Eropa timur telah runtuh.

Sehingga penekanan Post-Marxis adalah pendekatan kebudayaan dan yang berakar pada perbedaan identitas (ras, gender, etnik, seksuil). Anggapan Post-Marxis penggunaan analisa kelas adalah reduksionis, karena terdapat berbagai persoalan tentang ras, gender, etnis serta masalah seksual yang tidak dilihat oleh marxis. Perlakuan tidak adil terhadap ras, gender, etnik dapat dianalisa dan dihapus diluar analisa pendekatan kelas. Marxisme tidak menolak pengolongan atau pun pemilahan tentang ras, gender serta etnik dalam analisa kelas.
Dalam makalah ini saya akan membandingkan dan membahas bagaimana teori Marxis menjelaskan Perubahan Sosial menurut nya dan bagaimana pula Post Marxist melihat perubahan sosial itu sendiri. Apakah ada perbedaan yang signifikan antara kedua teori itu dan bagaimana pandangan kedua teori itu melihat kapitalisme dan gerakan untuk perubahan sosial.

BAB II
PEMBAHASAN

1. MARXISME

Fondasi teori Marxisme terangkum dalam tiga tema besar: Pertama adalah filsafat Materialisme, asas pokok filsafat ini, berdiri tegak di atas landasan Materialisme dialektika dan Materialisme historis. Kedua, ekonomi politik. Pembahasan yang paling penting dalam masalah ini yaitu pandangan materialisme dalam teori nilai laba atau keuntungan, beserta segala yang terkait dengan hal itu; baik rentetan yang mempengaruhi kondisi sosial masyarakat, bahkan yang menyentuh dimensi agama. Ketiga; konsep ketatanegaraan dan pandangan revolusi. Namun, konsep ketiga ini dalam perkembangannya saat ini sudah berada diluar lingkup Marxisme Klasik, sehingga tidak akan dibahas dalam makalah ini.

Pada umumnya Marxisme muncul mengambil bentuk dari tiga akar pokok, Salah satu dari akar itu ialah analisis Marx tentang politik Prancis, khususnya revolusi borjuis di Prancis tahun 1790an, dan perjuangan-perjuangan kelas berikutnya diawal abad ke-19. Akar lain dari Marxisme adalah apa yang disebut ‘ekonomi Inggris’, yaitu analisis Marx tentang sistem kapitalis seperti yang berkembang di Inggris. Akar ketiga dari Marxisme, yang menurut catatan sejarahnya merupakan titik permulaan Marxisme, adalah ‘filsafat Jerman’.

Pendek kata, Marxisme adalah teori untuk seluruh kelas buruh secara utuh, independen dari kepentingan jangka pendek dari berbagai golongan sektoral, nasional, dan lain-lain. Atau dengan kata lain, Marxisme terlahir dari perlawanan dan perjuangan kelas buruh melawan sistem kapitalis, dan juga mewujudkan obsesi kemenangan gerakan sosialis. Maka Marxisme bertentangan dengan oportunisme politik, yang justru mengorbankan kepentingan umum seluruh kelas buruh demi tuntutan sektoral dan/atau jangka pendek.

Karl Marx meyakini bahwa identitas suatu kelas sosial akan ditentukan oleh hubungannya dengan sarana-sarana produksi. Berdasarkan hal itu, Karl Marx mendeskripsikan kelas-kelas sosial dalam masyarakat Kapitalis, yang terdiri atas :

1) Kaum proletar (the proletariat), adalah mereka yang menjual tenaga kerja mereka karena mereka tidak memiliki sarana produksi sendiri. Menurut pandangan Karl Marx, mode produksi kapitalis membangun kondisi dimana kaum borjuis mengeksploitasi kaum proletar, berdasarkan fakta bahwa tenaga kerja menghasilkan nilai tambah (surplus value) yang lebih besar daripada gaji yang mereka terima
2) Kaum borjuis (the bourgeoisie), adalah mereka yang memiliki sarana produksi sendiri, dan membeli tenaga kerja dari kaum proletar dan mengeksploitasi mereka. Kaum borjuis selanjutnya dibagi lagi menjadi the very wealthy bourgeoisie dan the petit bourgeoisie yang walaupun mempekerjakan orang lain, tapi masih perlu bekerja sendiri. Marx memprediksikan bahwa petit bourgeoisie akan dihancurkan oleh penemuan sarana-sarana produksi baru yang terus menerus, dan akan menggeser kedudukan sebagian besar dari mereka menjadi kaum proletar

Konsep pokok dalam analisis Marx adalah “alienasi” atau “keterasingan”, yang timbul dalam masyarakat kapitalis karena eksploitasi terhadap kaum proletariat (buruh) oleh kaum borjuis. Padahal semua nilai ekonomi berasal dari kaum proletar, tetapi mereka tidak mendapatkan lebih dari upah subsisten, yaitu upah yang hanya cukup untuk melanjutkan hidup dan melahirkan keturunan. Saldo (nilai surplus) tetap digenggam oleh kaum borjuis, karena itu mereka menjadi kuat dan memojokkan kaum proltar dalam suatu kondisi perbudakan abadi. Proses ini akan “memerosotkan martabat” dan “memberlakukan dehumanisasi” pada kaum proletar, sehingga menurunkan mereka menjadi potongan manusia (alienasi). Mereka akhirnya tidak mampu mengembangkan potensi kemanusiaannya secara penuh. Eksploitasi ini menyebabkan pembagian masyarakat menjadi dua kelas antagonis dan meniupkan api peperangan kelas yang membentuk inti proses sejarah umat manusia. Umat manusia tidak bebas, mereka adalah bidak-bidak diatas papan catur sejarah. Nasib mereka ditentukan oleh konflik kepentingan ekonomi yang tidak dapat dihindari dalam berbagai kelas masyarakat manusia (determinisme ekonomi).

Menurut argumen ini, kunci sejarah tidak terletak pada gagasan-gagasan manusia, tetapi pada kondisi ekonomi kehidupan mereka. Agama dan negara dalam suatu masyarakat borjuis adalah bagian integral dari konflik ini dan dipakai oleh kaum borjuis untuk menindas kaum proletar. Karena itu, mereka amat berperan dalam proses alienasi manusia. Alienasi akan menghilang, bila terdapat suatu masyarakat yang tak berkelas, dan negara akan punah setelah melewati berbagai tingkatan proses sejarah. Karena itu, kewajiban yang pasti adalah menghapuskan semua keadaan dimana umat manusia dilecehkan, diperbudak, dan ditinggalkan sebagai makhluk terhina.

Satu-satunya cara untuk mengakhiri alienasi adalah menghapuskan kepemilikan barang, yang merupakan sebab utama. Hal ini akan menghapuskan hak-hak istimewa kaum borjuis dan juga akan memotong kekuasaan eksploitatif dan politik mereka. Cara yang paling efektif untuk mengakhiri ini adalah dengan melancarkan suatu revolusi yang digerakkan oleh kaum proletar untuk meruntuhkan secara paksa sistem kapitalis.

Marx menolak pendekatan kaum utopia sosial (yaitu eksperimen-eksperimen humanitarian berskala kecil dalam masyarakat) sebagai pembunuh perjuangan kelas. Usaha dari pihak pemerintah untuk memodifikasi pola-pola distribusi tidak akan berhasil membawa sosialisme. Untuk menciptakan suatu masyarakat yang benar-benar harmonis, yang mencerminkan gagasan “dari tiap-tiap orang diambil menurut kemampuannya dan kepada tiap orang diberikan menurut kebutuhannya”, maka sistem kapitalis harus mengalami suatu transformasi revolusioner. Setelah masyarakat berhasil melikuidasi kaum borjuis dan mengkolektifikasi sarana-sarana produksi yang dimiliki swasta, maka saat itu telah berhasil mewujudkan suatu masyarakat rasional progresif (yang bercirikan) tanpa upah, tanpa uang, tak ada kelas-kelas, dan akhirnya tak ada negara, yaitu “suatu asosiasi bebas para produsen dibawah kontol purposif dan kesadaran mereka sendiri”. Kejatuhan kaum borjuis dan kemenangan kaum proletar sama-sama tidak dapat dielakkan.

l

1.1 Teori Marxisme tentang Perubahan Sosial

Marxisme bukan hanya teori kritik terhadap kapitalisme yang memfokuskan pemahaman Mode of production yang dinamakan kapitalisme tapi juga merupakan teori tentang Perubahan Sosial . Semangat yang mendasari Karl marx dalam melakukan kritik terhadap kapitalisme pada dasarnya berangkat dari filsafat moral keadilan dan cita-cita untuk perubahan masyarakat menuju suatu keadaan yang berkeadilan Sosial Ekonomi. Dalam karyanya yang berjudul Das Kapital , pada dasarnya Marx menuturkan tentang kasus bagaimana proses ketidakadilan terjadi dalam aspek ekonomi . Analisis Marx tertuju pada ketidakadilan yang tersembunyi dari hubungan masyarakat dalam sistem kapitalisme.

Pandangan karl marx tentang kapitalisme intinya adalah bagaimana eksploitasi dan ketidakadilan dapat dijelaskan. Oleh karena itu , analisis marx dalam jilid pertama bukunya das kapital sama sekali tidak dimulai dari uraian-uraian sejarah dari kapitalisme itu sendiri, tapi dimulai dengan dari uraian sejarah yang yang tidak mengesankan d ari sistem kapitalisme, yakni tentang “ komoditas “ . pilihan komoditas sebagai pintu masuk untuk memahami seluruh sistem kapitalis . pilihan ini sengaja dipakai untuk lebih mempermudah memahami dasar dari ketidakadilan kapitalisme. Menurut Karl Marx , komoditas selain memiliki sifat kegunaan(use) juga mempunyai sifat exchange value , yang artinya dapat diperjualbelikan. Lama sebelum Marx, analisis dan teori ekonomi tidak berhasil menjelaskan hubungan antara dua sifat ( use dan exchange )dari komoditas itu. Mula-mula Karl marx tidak terlalu banyak menyinggung tentang use value yang menjadi kunci dari realitas kapitalis itu. Komoditas berguna sejauh mengandung dua elemen diatas , tetapi ia memilih komoditas sebagai exchange value sebagai pendekatan memahami kapitalisme. Exchange value yang ada dalam suatu komoditas sesungguhnya merupakan dasar penilian terhadap suatu komoditas.

Untuk suatu komuditas masyarakat tidak menukar dalam rasio yang beda, seperti dalam barter. Itu sebabnya exchange value menjadi pusat penelitian Marx menyangkut bagaimana nilai komuditas ditentukan dan apa dasarnya. Dari hasil penelitiannya Marx menemukan bahwa prinsip yang digunakan dalam masyarakat untuk mengatur dan menetapkan rasio tukar adalah didasarkan pada kuantitas kerja buruh yang terkandung dalam komoditas, termasuk tenaga yang dimasukkan dalam mesin produksi. Analisis Marx yang akhirnya melahirkan anggapan bahwa faktor buruh adalah faktor penentu exchange value itu merupakan dasar dari the labour theory of value. Penemuan terpenting marx tentang nilai adalah bagaimana menggunakan buruh sebagai alat untuk menetapkan ratio exchange , yaitu buruh menjadi alat untuk mengukur nilai suatu komoditas . Bagi Marx , individu buruh dapat dihitung dan untuk menghitungnya diperlukan suatu model relasi yang dikenal dengan mode produksi kapitalisme.

Atas dasar analisis itu , marx menilai bahwa kapitalisme adalah sistem sosial ekonomi yang dibangun untuk mencari keuntungan yang didapat dari proses produksi, bukan dari dagang , riba ataupun mencuri secara langsung , tetapi dengan cara mengorganisasikan mekanisme produksi secara tertentu sehinnga mengurangi biaya produksi seminimum mungkin, atau dengan menggunakan metode produksi tertentu . keuntungan ini mendorong terciptanya suatu kekuatan untuk menyeragamkan buruh dan menguasainya. Mode of production kapitalis menciptakan pasar untuk tenaga kerja , ketimbang hubungan manusia- tuan secara tradisional . marx merujuk pada adanya suatu kejahatan dalam proses itu karena adanya pemisahan antara kaum petani dan perajin dari akses langsung terhadap pemilikan alat produksi . pasaran buruh muncul karena petani dan perajin tidak memiliki lahan untuk dipaksa untuk menjual tenaga kerja mereka dalam bentuk yang dibutuhkan untuk suatu kelas sosial yang sekarang memiliki pertanian dengan pabrik. Mereka terpaksa menjual tenaganya karena untuk elangsungan hidupnya . Dengan cara itu, kapitalis melahirkan bentuk baru buruh yang dapat dijual belikan seperti komuditas. Buruh yang dihomogenkan itu disebut dengan labour power (tenaga kerja) , yang asalnya dari buruh heterogen pada masa mode pre-capitalist.

Teori labour value bagi Marx tidak hanya dipakai sebagai alat analisis terhadap exchange ratio, tetapi justru dipakai sebagai sarana untuk memahami problem ketidakadilan dalam sistem kapitalisme , yaitu hubungan sosial dalam sistem masyarakat kapitalis. Suatu yang oleh pemikir – pemikir sosial lain tidak dianggap penting unit kekayaan yang disebut Komoditas oleh Karl Marx disebut dengan social hieroglyphic . Komoditas baginya tidak hanya dilihat sebagau suatu benda, tetapi tersembunyi hubungan sosial . sifat komuditas itu mengaburkan persepsi orang tentang realitas kapitalis yang oleh Karl Marx disebut dengan yang namanya the fetishism of commodities.artinya adalah suatu komoditas dapat ditukarkan seolah-olah karena fisiknya , padahal nilai tukar suatu komoditas itu justru terletak pada adanya hubungan sosial dengan tenaga kerja yang terkandung didalamnya. Melalui konsep fetishism itu, dapat dipahami kalau suatu komoditas mengandung dan membungkus persoalan kapitalisme . Ekonomi umumnya berfikir bahwa kekayaan yang datang dari tanah, buruh , dan modal merupakan hadiah dan sumbangan karena usaha memproduksi barang yang bermanfaat . padahal sebenarya tanah dan modal sepeti buruh dan hubungan sosial adalah hak yang disepakati oleh pemilik tanah dan modal untuk mengklaim produksi atas nama sumbangan yang telah dibuat oleh sumber dan modal mereka. Kerancuan tentang hak sosial ini bagi Karl Marx dianggap sebagai bagian utama dari fetishisme dalam kaptalisme.
Dalam sistem kapitalis , transfer kekayaan dari mereka yang memproduksi secara langsung (buruh) kepada mereka yang tidak ikut memproduksi (kapitalis) dikaji secara ilmiah . begitu tanah, buruh dan modal muncul sebagai sesuatu yang menghasilkan kekayaan sosial , konflik muncul dalam hubungan sosial karena mereka yang bekerja ( kelas pekerja ) mengklaim hak pemilikannya . elemen fetishisme dalam komoditas ini mengerikan karena ia merupakan bibit kekuatan untuk konflik dan bukan kerja sama. Karl Marx membuat komoditas menjadi sarana wawasan sosial – analisis sejati terhadap keseluruhan sistem kapitalisme.

Selanjutnya Karl marx menganalisis commodity labour powernya sendiri. Bagi Marx komoditas mempunyai dua aspek , yaitu aspek kegunaaan dan aspek perdagangan (exchange abillity ). Namun Karl Marx menemukan kandungan labour power didalamnya yang membuat komoditas mengandung use value yang menghasilkan “surplus” . Use value terdapat dalam produk kapitalis yang diproduksi oleh buruh. Salah satu syarat menjual “tenaga kerja “sebagai komoditas adalah buruh tak ada hak untuk mengklaim produk yang diciptakan atau yang dibuatnya. Misalnya handphone NOKIA yang dihasilkan oleh buruh atau pekerja perusahaan telephone seluler itu bukanlah milik buruh atau pekerja, melainkan milik NOKIA sebagai Suatu Perusahaan. Maka dari itu misalnya juga mobil yang dihasilkan pabrik menjadi milik pabrik . yang memiliki “Budak “ yakni buruh dan managemen. Karl marx menemukan rahasia utama dari kapitalis , bahwa profit sudah diperoleh sebelum produk dilempar ke pasaran , yakni profit diperoleh bukan karena perdagangan tetapi justru sebelum komoditas dijual , yakni ketika diproduksi . Sumber profit itu dicuri dari surplus value yaitu perbedaan nilai antara tenaga kerja yang dijual buruh dan nilai produk pada waktu akhir produksi.

Teori Surplus value(nilai lebih) ini merupakan analisis Marx yang amat penting tentang bagaimana eksploitasi atau pencurian antara buruh dan kapitalis terjadi. Intinya adalah perbedaan antara labour dan labour force . labour power adalah kemampuan untuk bekerja yang dibeli oleh majikan pada sewaktu dia menerima buruh untuk dia bekerja. Sedangkan labour adalah pembelanjaaan aktual dari energi manusia dan kepandaiannya yang dimiliki buruh pada waktu dia bekerja. Teori karl Marx tentang Surplus value menganggap bahwa harus ada perbedaan antara keduanya. Seseorang selalu dapat membeli kemmpuan bekerja dengan harga kurang dari nilai yang akan diciptakan ketika kemampuan tersebut digunakan dan komoditas diproduksi. Dalam pandangan Marx , lemahnya posisi buruh dan tekanan pengangguaan berjalan secara sistematis untuk menjaga nilai komoditas labour power pada level yang tidak memungkinkan bernilai kompetitif bagi kapitalis. Akan tetapi , kekuatan untuk menekan buruh ini tidak terjadi pada komoditas lain seperti mesin. Oleh karena itu, tidak ada lapisan permanen surplus dalam mesin. Yang ada hanya pada kaum buruh. Buruh sendiri mengandung sumber profit , ini membawa dampak besar pada nasib sistem kapitalisme.

Teori Surplus value ini sendiri menjelaskan masalah yang rumit dan berat didalam ekonomi , yaitu sumber profit. Ketidaksediaan untuk mendistribusikan profit dari satu kelas ke kelas yang lain merupakan persoalan yang tidak dapat dipecahkan. Secara implisit , Adam Smith menyingung sumber profit yakni deduksi dari pembayaran buruh. Sejak saat itu , penjelasan mengenai profit tidak pernah muncul. Sumbangan Marx tidak hanya menyingkirkan ketidakjelasan yang membolehkan “tanah” dan “modal” muncul sebagai hubungan sosial tetapi juga penjelasan bagaimana tekanan ditingkatkan oleh kapitalis secara sistematis untuk menekankan nilai labour power sampai dibawah nilai komoditas . tujuan dari teori surplus value ini adalah untuk menjelaskan kehadiran dan kelangengan (keeratan) surplus yang terdapat dalam mode of production kapitalis.
Kita sering bertanya-tanya apakah elemen sistem kapitalisme itu sendiri ? Capital (modal) , menurut pendapat Karl Marx adalah hubungan sosial yang terkandung dalam komoditas. Capital bukanlah susunan peralatan . Buruh sekarang tergabung dalam mesin dan labour mati , yaitu mesin menghadapi tuannya (buruh). Buruh yang hidup harus mengadaptasi gerak temannya (mesin) , dan keharusan itu tidak dibangun untuk menyesuaikan dengan pengalaman buruh, tetapi untuk tujuan pengiritan dalam rangka meningkatkan surplus value setinggi (sebesar)mungkin, suatu sumber baru dari capital.

Semua orang tahu, kalau mesin diciptakan bukan untuk memudahkan pekerjaan , tetapi demi memaksimalkan hasil. Mungkin tujuan dari insinyur mesin adalah untuk efisiensi , tetapi tujuan itu bukanlah tujuan dari kapitalis .definisi “Efisiensi” dititikberatkan pada pencapaian hasil setinggi-tingginya melalui fisik dengan ongkos serendah-rendahnya . akan tetapi bagi kapitalis , hitungannya lebih pada tinnginya pencapaian keuntungan dari kerja itu.
Jadi, modal (capital) dalam mode of production kapitalis adalah hubungan sosial dari dominasi , suatu ungkapan tentang hierarki struktur kelas di masyarakat . konsep capital sebagai hubungan sosial yang mengungkap dominasi kelas memungkinkan kita melihat dorongan diri yang dikembangkan lebih dari sekedar rakus. Ini adalah proses perjuangan kelas yakni kelas yang dominan senantiasa menjaga posisi superioritasnya. Superioritas dilanggengkan secara terus-menerus dengan memperbaharui dan mengembangkan akumulasi kapital , sesuatu yang alat penekan kekuatannya pada buruh. Kapitalis berkembang karena hubungan sosial yang dominatif. Kapitalisme dikontrol oleh hubungan persaingan pasar, dan bukan elemen kontrak antara buruh dan modal. Disini kompetisi merupakan kekuatan dominan dari pasar . kompetisi sumbernya adalah dorongan ekspansi masing-masing kapital perusahaan.

Sistem kompetisi pasar memberi manfaat kepada buruh dan kapitalis . kapitalis memberi pekerjaan dan buruh menjual tenaga kerja kepada kapitalis . melalui konsep kerja ini, surplus value mengalir ke kapitalis. Dari surplus value lahir yang lain : profit, bunga, dan sewa tanah . yang menarik adalah bahwa berlawanan (kontradiksi) ini justru merupakan roh sistem ini. Gerakan ekspansi bagi semua kapitalis untuk mengembangkan modal membawa peningkatan kebutuhan buruh. Upah buruh naik, profit pun turun , dan kapitalis kemudian akan tetap ingin menjaga tingkat profit dengan satu-satunya cara, yaitu menggantikan buruh dengan mesin, suatu usaha untuk menekankan harga sehinga dapat mengalahkan pesaing. Itulah nature dari keadaan ini. Alasan penggunaan mesin mengganti buruh adalah agar surplus dapat meningkat. Mesin tidak pernah menjadi sumber surplus value karena persaingan akan mengurangi perbedaan harga. Oleh karena itu , kemampuan mesin untuk memberikan capital hasil surplus value akan gagal. Kontradiksi proses ekspansi berakibat jatuhnya tingkat profit yang diungkapkan Karl Marx dalam Capital volume III. Marx berpendapat bahwa menjatuhkan profit adalah konsekuensi dari kekuatan sosial. Marx menjelaskan usaha-usaha agar kapitalis tidak menurunkan profit, yakni : Meningkatkan Eksploitasi , menurunkan upah pekerja (buruh) dibawah nilai labour power , mengambil kesempatan dalam krisis bisnis dengan membeli mesin baru atau bahan mentah di bawah harga pasar, memanfaatkan penganguran untuk memproduksi produk lain dan menyalurkan surplus value keluar negeri melalui perdagangan luar negeri (internasional). Analisis ini yang dibahas dalam teori yang dikenal dengan law of motion sistem kapitalisme.

Harapan Marx adalah tingkat profit akan selalu erosi, tetapi terdapat tendensi kejatuhan fluktuasi , dan itulah krisis yang merupakan bagian integrasi proses ekspansi . law of motion merupakan sistem substansi kehancuran diri dari mesin terhadap buruh yaitu bisa di bilang kontradiksi yang inheren dalam ide kapital itu sendiri. Selain itu, persaingan antar dunia bisnis atau tendensi kontradiksi untuk melawan turunnya surplus value , tidak pasti membawa sistem pada titik rendah surplus value. Yang paling penting dalam hal ini adalah perubahan sistematis dalam ukuran dan kesatuan komando dalam perusahaan kapitalis. Marx menyatakan pendapatnya bahwa proses ini disebut sebagai kontradiksi dan sentralisasi modal. Ini merupakan proses pendewasaan perusahaan raksasa dengan operasi khususnya. Keberhasilan bisnis raksasa itu menjadi ciri kedewasaan kapitalisme. Memburuknya krisis mengubah politik dan sektor ekonomi. Pada saat perusahaan besar berkembang , ia akan menggusur kapitalis yang lemah . kelas sosial dalam kapitalisme terbagi dalam dua kelas yang bermusuhan : golongan besar mayoritas yang tidak mempunyai akses untuk kehidupan kecuali melalui pnenjualan labour power dan segolongan kecil kapitalis yang memiliki alat produksi. Sementara itu penekanan terhadap kelas pekerja secara perlahan akan membangkitkan kesadaran revolusioner . gerakan di dalam sistem membawa krisis yang akan menuju kehancuran kapitalisme itu sendiri. Dalam proses perubahan itu, pada hakikatnya tersembunyi teori perubahan sosial revolusi menuju tatanan masyarakat baru tanpa eksploitasi.

2. Post Marxisme

Post Marxisme adalah ideology kaum intelektual bekas kaum Marxist yang ingin memperbaiki nasib rakyat jelata melalui program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintahan borjuis. Post Marxisme berlawanan dengan Marxisme (ideology kaum buruh yang ingin memperbaiki nasibnya melalui suatu revolusi social). Dua ideology itu memiliki sejarah yang berbeda.

Sebagian besar dunia dewasa ini secara ekonomi dan politik dikuasai oleh kaum neo liberalisme berdasar konsep globalisme, yaitu kegiatan ekonomi yang tidak mengenal batas batas negara, modal dan teknologi bebas masuk keluar suatu negara tanpa hambatan oleh penguasa politik. Negara harus bersifat pasif terhadap kegiatan ekonomi, ia hanya berfungsi sebagai penarik pajak, penjaga dan pelayan lalu lintas modal yang beroperasi di negaranya. Peranan suatu negara harus tunduk kepada kegiatan ekonomi global. Dalam kondisi yang demikian. Pemilik modal besar dan pemilik teknologi canggih akan mengusai kegiatan ekonomi. Pemilik modal kecil dan pemilik teknologi sederhana terutama di negeri negeri sedang berkembang akan terpinggirkan, atau harus bersedia menjadi bawahan dari pemilik modal besar dan pemilik teknologi canggih. Kondisi yang demikian ini lazim disebut penghisapan bangsa oleh bangsa (l’exploitation de l’homne par homne), atau proses Suatu bangsa (bangsa bangsa yang sedang berkembang) menjadi kulinya bangsa bangsa yang telah maju, yang memiliki modal besar dan teknologi canggih.

Kaum Post Marxisme menangkap kesempatan ini. Mereka mengritik marxisme bahwa marxisme harus disesuaikan dengan kondisi objektif perkembangan kapitalisme global yang dikumandangkan oleh kaum neo liberalisme. Kaum marxis harus berhenti bicara soal perjuangan kelas dan revolusi. Mereka harus merevisi marxisme, disesuaikan dengan perkembangan kapitalisme global yang ingin menanamkan modalnya di seluruh dunia tanpa hambatan. Negara harus bersedia bekerjasama dengan kaum kapitalis global, agar rakyatnya dapat dimakmurkan. Konsep yang demikian membingungkan rakyat jelata hampir di seluruh dunia. Karena konsep tersebut nampaknya lebih mudah dijalankan, karena tidak perlu harus mengorganisir rakyat tertindas untuk melakukan revolusi. Dengan terciptanya kerjasama antara kaum post marxisme dengan kaum neo liberalisme dunia lebih mudah dikuasai kaum kapitalis global dan dapat melemahkan gerakan revolusioner hampir di seluruh dunia.

Bila teori Marxis percaya adanya kesadaran kelas dan pertentangan kelas, maka Post-Marxist lebih memercayai kesadaran sosial bersama (social consiusness) yang bersifat temporal, contingent, dan historis. Teori Marxis percaya akan terbangun kekuatan terorganisir kelas tertindas melawan kelas penindas, sementara Post Marxist percaya bahwa kontradiksi atau antagonisme ini bersifat sosial dan fluktuatif. Konstruksi dan rekonstruksi sosial dibangun berdasarkan reaksi atas kepentingan momen-momen tertentu dan hanya membentuk alinasi-aliansi sosial temporer. Tidak mesti ada kelas tertentu (semacam kelas proletar) di dalam pergerakan sosial, tetap cukup dibangun di dalam cita-cita sosial bersama di dalam konteks issu-issu tertentu dan tentu saja bersifat dinamis serta relatif. Dinamika sosial bergerak seiring dengan kehendak manusia mempertahankan identitasnya. Sebaliknya, teori Marxis percaya pada suatu cita-cita permanen tentang masyarakat sosialisme di mana alur sejarah akan bergerak secara deterministik dan memiliki keteraturan
Intinya adalah teori Post marxist menganggap bahwa perubahan sosial tidak hanya dapat dilakukan oleh kaum buruh seperti yang dikatakan oleh Marxisme. Tapi gerakan sosial dapat dilakukan oleh kelompok-kelompok sosial yang memiliki kepentingan untuk melakukan perubahan. Gerakan perlawanan menurut post marxist bukan lagi tentang perlawanan kelas, tetapi sudah keluar dari konflik perburuhan, yang dapat diartikan bahwa gerakan perlawanan di zaman sekarang lebih luas. Dan aktor dari gerakan sosial bisa mencakup kelompok kelompok sosial lain, dan bukan dari kelas proletar , tapi bisa kelas menengah dan kaum intelektual ataupun kelompok pemuda. Selain itu post marxis memberikan gambaran pada kita bahawa di zaman sekarang ini pekerja atau buruh dalam sistem kapitalisme tidak lagi melakukan protes akibat upah yang sangat rendah. Di zaman sekarang saya contohkaan bahwa buruh di eropa memiliki upah atau gaji yang sangat memuaskan. Kita bisa lihat dalam industri sepakbola di eropa. Sepakbola bukan lagi olahraga tetapi juga sudah merupakan ladang bisnis yang dimiliki oleh para jutawan eropa yang memiliki klub sepakbola. Pemain-pemain bola seperti wayne rooney, lionel messi, cristiano ronaldo, frank lampard merupakan kaum pekerja atau buruh dalam industri permainan ini. Tapi apa yang kita lihat ? Mereka memiliki penghasilan tinggi, tenar, memiliki barang mewah dan bergelimang harta. Sehinnga post marxist menyangkal pendapat marxis bahwa buruh kekurangan upah dan dieksploitasi oleh kaum kapitalisme. Karena pada zaman sekarang buruh telah dapat memenuhi kebutuhannya dan penghasilan mereka sangat tinngi menurut keahliannya dan kaum buruh tidak mungkin lagi melawan kapitalis selama kapitalis tersebut dapat memenuhi kebutuhan mereka.

3.MARXIS DAN POST MARXIST
Eksploitasi ekonomi dan ketergantungan

Dalam analisis marxisme yang lama diatas, perubahan sosial sangat terfokus dan direduksi pada perubahan struktur relasi ekonomi. Dalam teori perubahan sosial yang terfokus pada perubahan ekonomi seperti itu , aspek lain termasuk kebudayaan , hegemoni ideologi , pendidikan diskursus, serta relasi gender tidak diperhitungkan dalam perubahan sosial. Akan tetapi , buruh memiliki peran sentral dalam perubahan sosial. Analisis seperti ini mengakibatkan gerakan buruh dianggap pelaku utama perubahan sosial. Analisis yang mereduksi sistem kapitalisme dalam hubungan majikan-buruh dalam relasi ekonomi ini sudah banyak direvisi. Salah satu revisinya adalah analisis dialektika antireduksionis dan anti esensialis yang dipelopori Althusser . bagi penganut ini , sistem kapitalisme merupakan saling keterkaitan hubungan yang sangat kompleks yang melibatkan banyak aspek yang seperti pengetahuan dan teknologi pertanian, kebijaksanaan politik pemerintah , penanaman modal dan kapital multinasional , serta proses eksploitasi kelas.

Pada dasarnya teori politik ekonomi yang menggunakan perspektif kelas , lebih mempertanyakan siapa yang diuntungkan dari proses pembangunan di dunia ketiga . namun sebelum melihat hubungan pembangunan dan ekonomi terlebih dahulu akan akan saya diuraikan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kelas. Dalam perspektif sosial, politik, budaya , dan ekonomi. Resnick dan Wolf (1978) mendefinisikan kelas sebagai proses dalam masyarakat yang disatu pihak ada anggota masyarakat menduduki posisi tertentu dalam proses tersebut , yakni bekerja dan menghasilkan nilai lebih (buruh maupun buruh tani) , sedangkan dipihak lain adapula anggota masyarakat yang tidak bekerja (majikan) yang mengambil dan mendistribusikan nilai itu dalam formulasi sosial kapitalis yang disebut dengan kaum kapitalis. Proses kelas ini disebut sebagai proses kelas utama (fundamental). Hubungan antara posisi dua kelas menentukan keberadaan kelas menengah perantara atau subsumed class.

Dalam Pengertian ini , proses kelas berarti suatu proses pengambilan nilai lebih dari pekerja atau buruh penghasil langsung nilai itu. Perannya dalam formasi struktur sosial dan perubahan sosial terletak pada analisis hubungan antara penghasil dan pengambil nilai lebih dan hubungannya dengan bagian nonkelas dalam masyarakat yakni mereka yang bertugas sebagai pendistribusi nilai lebih tersebut. Maksudnya adalah kelas menengah diberikan pada mereka yang menduduki posisi dalam pendistribusian nilai lebih. Yang diberikan pada bagian lain non-kelas dari kehidupan seperti manager, distributor, tentara, polisi, peneliti, pengembang, media massa , dan lain-lain.
Namun demikian, keberadaan kelas utama sangat tergantung pada kelas menengah perantara dan sebaliknya. Didalam perusahaan misalnya posisi pedagang contohnya, posisi pedagang perantara yakni mereka yang menduduki kelas menengah perantara adalah distributor. Gaji mereka berasal sumber yang sama, yakni dari nilai lebih hasil pekerja. Namun, keberadaan kelas menengah perantara itu memungkinkan proses kelas utama berlangsung. Dengan kata lain, proses kelas utama sangat tergantung pada bagaimana pedagang memasarkan produknya. Kaitan antara proses kedua kelas ini disebut dengan proses kontradiksi yang berkaitan. Kontradiksi juga terjadi antara kalangan kelas utama untuk mendapatkan lebih banyak lagi nilai lebih yang dihasilkan oleh proses kelas utama.
Dari uraian diatas dapat dikatakan kalau sistem ekonomi yang digunakan oleh pembangunan mengandung ketidakadilan , karena ada kelompok masyarakat yang memproduksi nilai lebih yang diambil oleh mereka yang tidak bekerja . mereka tidak diajak bernegosiasi tentang berapa upah mereka serta tidak diberi kebebasan untuk bernegosiasi mendidik diri untuk mampu memperjuangkan nasibnya. Sebagai contohnya adalah :

“ Ketidakadilan yang sering terjadi pada kaum buruh ataupun petani di pedesaan.”

Dimana setiap kebijakan kultural sangat tergantung pada kelas utama yang terjadi pada formasi sosial dipedesaaan negara dunia ketiga. Aparat program revolusi hijau dari tingkat lokal, nasional, dan internasional pada dasarnya menerima nilai lebih yang diterima dari hasil keringat petani pedesaan dan sebagai imbalannya mereka mengupayakan berbagai hal untuk memuluskan proses kelas di wilayah pedesaan tersebut. Yang dimaksud dengan proses kelas pedesaan adalah suatu proses dimana para petani yang bekerja dan menghasilakan Nilai Lebih , tetapi nilai lebih tersebut diambil oleh orang yang tidak bekerja (majikan petani yang menggarap) lalu didistribusikan kepada kelas menengah perantara(subsumed class) , termasuk pemilik tanah , bunga kredit, benih, pupuk, dan pestisida yang di danai oleh Bank Dunia (World Bank) serta pajak kepada pemerintah. Proses kelas tersebut juga bergantung pada stabilitas politik, pengetahuan revolusi, hijau, teknologi , teknologi pertanian. Jadi, relasi struktural dalam program revolusi hijau tidak saja terbatas dalam satu negara melainkan berdimensi global. Misalnya saja Bank Dunia dalam program itu mengirim tenaga ahlinya kepedesaan Dunia ketiga untuk memberi bimbingan atau arahan kepada petani, dan sebagai imbalannya mereka menerima bagian dari surplus value yang dihasilkan petani sebagai kelas perantara asing. Demikian halnya benih padi dihasilkan oleh perusahaan Multinasional yang dibeli dari hasil proses kelas utama pedesaan. Selanjutnya buruh tani pulang kerumah , dan dirumahnya mereka melangsungkan hubungan sosial feodal dengan keluarganya. “

Seluruh penjelasan ini, menggambarkan bahwa dari perspektif dialektis masalah dunia ketiga tampak sangat kompleks dan saling terkait . Pembangunan menciptakan masalah struktural dan sebaliknya proses ekonomi , politik dan kultural di dunia ketiga juga membentuk konsep pembangunan. Overdeterminasi antara pembangunan dengan proses ekonomi , politik, dan kultural ini berlangsung saling berhubungan secara kompleks melalui proses kelas dan kondisi yang melanggengkan seperti ideologi gender , kebijakan ekonomi , dan pembangunan nasional, perdagangan internasional, tekanan politik, hegemoni kultural bank dunia dan negara-negara kapitalis maju dan banyak hal lainnya.

Implikasi yang dikemukakan oleh althusserian ini adalah hal pokok dalam teori perubahan sosial. Pada dasarnya kritik Althusserian ini adalah pada pemahaman kelas yang deterministik memiliki dampak pada teori perubahan sosial sebagai berikut : Pertama, konsep kelas yang umumnya diyakini baik oleh pengikut Marxisme maupun bukan marxis adalah berdasarkan pada wealth atau kekayaan . atas dasar itu pembagian kelas semata didasarkan pada kekayaan yang dimiliki oleh seseorang . jika kekayaan yang dimiliki sangat besar , ia disebut kelas elite , sementara mereka yang tidak memiliki kekayaan disebut kelas bawah. Pandangan tersebut membawa impak bahwa masyarakat tanpa kelas yang dicita-citakan oleh Marx ditangkap sebagai sama rata sama rasa. Pandangan ini pernah dipraktekkan di Uni soviet dan beberapa negara yang menafsirkan teori kelas. Sementara itu Althusser justru melihat persoalan kelas adalah persoalan ketidakadilan yang berupa surplus value appropriation yang arti harfiahnya adalah pencurian nilai lebih, jadi yang dipersoalkan oleh mereka bukan kekayaan itu sendiri , melainkan bagaimana suatu kekayaan didapatkan . kritik ini membawa perubahan sosial atau proses masyarakat tanpa eksploitasi yakni tanpa pencurian terselubung.

Implikasi kedua adalah , dari siapa yang harus memperjuangkan keadilan soasial. Dalam paham kelas Marxisme , yang bersandarkan pada wealth , perubahan sosial dan perjuangan kelas difokuskan pada gerakan Buruh. Sementara bagi penganut post marxist , perubahan sosial tidak bisa lagi difokuskan pada gerakan buruh , melainkan pada keseluruhan eksponen gerakan sosial . hal ini berangkat dari asumsi bahwa struktur sosial ikut berbicara dalam sistem kapitalisme . para pemilik modal atau kapitalis tidak lagi berdiri sendiri melainkan merupakan bagian dari struktur yang lebih luas. Para kapitalis , bukan lagi pemilik modal melainkan mendapat pinjaman dari Bank. Untuk mendapatkan pinjaman, pemerintah memiliki peran untuk memberikan rekomendasi. Demikian halnya hasil eksploitasi dari buruh juga tidak semata dimiliki oleh pemilik modal, melainkan harus didistribusikan kepada kelas menengah lainnya dalam bentuk bunga bank, pajak, dan untuk riset penelitian. Pajak kemudian di distribusikan untuk banyak hal seperti proses legislasi, keamanan, pendidikan, bahkan kegiatan kesenian, dan kebudayaan . sebagai balasan mereka yang mendapat bagian dari keringat buruh ini harus melakukan legitimasi sistem kelas yang ada.

Dengan begitu, proses kelas bagi paham ini melibatkan banyak entitas dalam masyarakat . atas dasar itu, perubahan sosial tidak bisa lagi hanya difokuskan pada gerakan buruh. Misalnya saja pada pandangan Post Marxist, kalau gerakan kaun Gay (homoseksual) dapat melakukan perubahan akibat dari perlawanan mereka yang menuntut adanya Pernikahan sesama jenis di Portugal tahun 2009. Ataupun gerakan perlawanan yang sama yang dilakukan kaum homoseksual di beberapa negara bagian AS, dan hasilnya : beberapa negara bagian tersebut ada yang mensyahkan pernikahan sesama jenis.
Hanya saja, teori ini masih dalam perkembangan dalam menganalisis setiap kasus new social Movement. Dan Menurut Pendapat saya jika dibandingkan dengan teori Marxis, teori Post marxis lebih baik atau lebih kompleks dalam menjelaskan berbagai fenomena gerakan sosial, maksudnya adalah Post Marxist lebih luas cakupan berfikirnya dibandingkan dari Marxisme. Jika marxisme hanya berkutat pada perlawanan kaum proletar pada sistem Kapitalisme, maka Post Marxist lebih membawa cakrawala bertindak dan berfikir kita bahwa setiap orang atau manusia dapat melakukan pembaharuan atau terlibat dalam proses perubahan sosial. Dan dizaman globalisasi sekarang ini, dimana kapitalisme adalah sistem yang sangat sentral Post marxist menjelskan pada kita untuk memanfaatkan alat-alat kelengkapan dari sistem demokrasi dan kapitalisme itu untuk melakukan perubahan yang lebih baik.

BAB III
KESIMPULAN

Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya “kepemilikan pribadi” dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari marxisme Ideology Marxisme lahir dari kesadaran kaum buruh untuk mengubah nasibnya dari penindasan dan penghisapan kaum kapitalis melalui revolusi social. Marxisme merupakan senjata idiil kaum buruh dan buruh menjadi senjata materiil Marxisme.

Sedangkan post Marxisme menawarkan bentuk gerakan sosial baru bukan hanya bergantung pada gerakan buruh, tapi gerakan itu bisa dilakukan oleh kelompok sosial lainya. Dan teori ini dapat menjelaskan yang belum bisa dijelaskan oleh teori marxist terkait kapitalisme dizaman globalissi terkait dengan buruh dan perlawanan kelas sosial lain.

DAFTAR PUSTAKA

Brewer, Anthony. ” Kajian Kritis DAS KAPITAL KARL MARX , CV. ADIPURA , Jakarta 1999

Fakih, Mansour , “ runtuhnya teori Pembangunan dan globalisasi “,Yogyakarta Insist press, 2005.

Hashem, “agama marxist dan asal usul atheisme dan fenomena kapitalis “, Surabaya,Yayasan Nuansa cendekia, 2001.

Held, David dan Giddens, Anthony ,” perdebatan klasik dan kontemporer mengenai Kelompok, Kekuasaan dan konflik”,Jakarta, CV Rajawali 1982

Mandel, Ernest , “tesis-tesis pokok Marxisme “,Yogyakarta Nailil printika, 2006

Ritzer ,george. “ Teori Sosiologi Modern “, Jakarta, Prenada Media, 2004.

wahid situmorang, Abdul, “gerakan sosial” , Yogyakarta pustaka pelajar, 2007.

SUMBER INTERNET

Dikutip dari http://muttaqiena.blogspot.com/2009/01/marxisme-klasik-bunga-rampai-pemikiran.htm

Dikutip dari , http://www.polarhome.com/pipermail/gmni/2002-July/000015.html

Dikutip dari : http://taufandamanik.wordpress.com/2010/07/28/psikologi-massa-wacana-kolektif-dan-perubahan-sosial/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: