HASAN AL-BANNA dan PEMIKIRANNYA TENTANG KEBANGKITAN UMAT

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. a.      Latar Belakang

 

Islam berkembang cepat dan memiliki akar yang begitu banyak. Tradisi Islam senantiasa memandang penyebaran Islam yang luar biasa ini sebagai bukti keajaiban dan kesahihan historis akan kebenaran al-Qur’an dan klaim-klaim Islam dan sebagai tanda adanya petunjuk dari Allah. Akan tetapi kolonialisme bangsa-bangsa Eropa pada abad ke-18 hingga pertengahan pertama abad ke-20 dan kegagalan selanjutnya dari banyak negara Islam modern menyodorkan tantangan yang serius atas kepercayaan ini.Maka muncullah kelompok yang beranggapan bahwa Islam sudah tidak relevan lagi, namun di sisi lain muncul juga kalangan yang menggaungkan kembali kepada Islam yang kaffah dalam semua lini kehidupan.  

 

Islam adalah agama yang lengkap. Islam tidak memisahkan antara sesuatu yang duniawi dan ukhrawi, atau yang profan dan sakral. Islam meliputi segala sesuatu, sebagai way of life. Islam meliputi alam semesta, ekonomi, sosial politik, dengan konsepsi umum yang kemudian melahirkan banyak interpretasi. Tafsiran antar para pemikir beragam macamnya, termasuk dalam hal pemikiran politik. 

 

Pemikiran Politik dalam Islam berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Al-Mawardi (w.1058 M), Ibn Taimiyyah (w.1328 M) Ibn Khaldun (w.1406 M), Ibnu Abdil Wahhab (w.1793 M), al-Afghani (w.1897 M) dan Abduh (w.1905 M) sebagai contoh adalah beberapa nama pemikir muslim yang menjadi rujukan dalam pemikiran politik. Namun selain beberapa nama itu, tokoh pergerakan Islam dari tanah Mesir, Hasan al-Banna memiliki pemikiran yang menarik dalam bidang politik.

 

Menurut Muhammad Abdul Qadir Abu Faris dalam bukunya Fikih Politik Menurut Imam Hasan Al-Banna, orang yang membaca apa yang ditulis oleh Hasan Al-Banna apa yang disampaikan dalam berbagai kesempatan ceramah umum maupun khusus, penguasaannya terhadap berbagai disiplin ilmu dan bahkan menghafalnya, maka akan memahaminya dengan mudah, bahwa Hasan Al-Banna adalah seorang ulama yang mumpuni dalam memahami nash-nash syar’iBeliau juga mendalami berbagai persoalan zamannya di dunia Arab dan Islam, mengikuti peristiwa-peristiwa dunia, dan memahami hakikat peradaban barat yang merupakan peradaban yang terfokus pada kenikmatan dan nafsu syahwat

 

Hasan Al-Banna adalah salah satu tokoh pergerakan besar Islam. Jama’ah-nya yang bernama Ikhwanul Muslimin memberikan pengaruh yang banyak di berbagai penjuru dunia muslim. Zabir Rizq menyebutkan bahwa al-Banna “Sangat pantas didaulat sebagai pembaru abad ke-14 Hijriyah.” Tokoh Islam ini, lanjut Rizq dalam bukunya al-Imam as-Syahid Hasan al-Banna, adalah pemimpin rakyat yang sampai saat ini belum seorang pun mampu menandinginya

 

Ide al-Banna tentang Arabisme sebagai contoh, menarik disimak. Al-Banna menyebut bahwa umat Islam merupakan bangsa pilihan. Islam, menurutnya, tidak pernah bangkit tanpa bersatunya bangsa Arab. Batas-batas geografis dan pemetaan politis tidak pernah mengoyak makna kesatuan Arab dan Islam. “Jika bangsa Arab hina, hina pulalah Islam,” demikian al-Banna seperti dikutip dari “Dakwah Kami” yang mengutip dari sabda Rasulullah Saw.

 

Dalam makalah ini, akan dijelaskan tentang pemikiran Hasan al-Banna dalam bidang politik dan bagaimana ide ide dari Hasan Al banna- tentang kebangkitan Islam. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

I. Sosok Hasan Al Banna

Dunia Islam khususnya di Mesir pada sekitar pertengahan abad dua puluh mempunyai tokoh kharismatis yang memperjuangkan Islam melalui sebuah tradisi penegakkan Islam melalui keluarga (al-usrah). Kelompok-kelompok usroh inilah yang dikenal dengan nama gerakan ikhwanul Muslimin, sedangkan tokohnya adalah Hasan Al-Banna. Gerakan ini menekankan pada aspek penegakkan syariat Islam dengan penuh keyakinan dan keikhlasan dibandingkan pada perkembangan pemikiran Islam modern.

Ketika Ikhwanul Muslimin didirikan tahun 1928, pada saat itu Hasan Al-Bana baru berusia 22 tahun yang bekerja sebagai seorang guru. Gerakan ini merupakan gerakan paling berpengaruh pada abad dua puluh yang mengarahkan kembali masyarakat Muslim ke tatanan Islam Murni. Hasan Al-Banna dalam gerakannya untuk mengubah mode intelektual elite menjadi gejala popular yang kuat pengaruhnya pada interaksi antara agama dan politik, bukan saja di Mesir, namun juga di dunia Arab dan Muslim.

Hasan Al-Banna merupakan tokoh kharismatis yang begitu dicintai oleh pengikutnya. Cara memimpin jamaahnya bagai seorang syaikh sufi memimpin tarekatnya. Banna dalam segi gerakan sangat memperhatikan fungsi setiap komponen organisasi. Unit terkecil yakni usrah (keluarga) menurutnya memiliki tiga tiang. Yang pertama adalah saling kenal, yang akan menjamin persatuan. Kedua, anggota usroh harus saling memahami satu sama lain, dengan saling menasehati. Dan yang ketiga adalah memperlihatkan solidaritas dengan saling membantu. Bagi Hasan Al-Banna al-usroh merupakan mikrokosmos masyarakat Muslim ideal, di mana sikap orang beriman terhadap satu sama lain seperti saudara, dan sama-sama berupaya meningkatkan segi religius, sosial, dan kultural kehidupan mereka.

Hasan Al-Banna dengan segala kegigihannya telah berjuang untuk menegakkan tatanan Islam. Hasan Al-Bana merupakan figur yang dengan keikhlasannya telah memperjuangkan nilai-nilai Islam. Usahanya yang tak kenal lelah dalam membangun masyarakat muslim yang berawal keluarga dapat menjadi contoh kita membuat gerakan dakwah melalui tatanan sosial yang paling kecil itu.

Biografi Singkat

 

 

        Hasan Al- Banna

 

Hasan al-Banna dilahirkan pada Ahad 25 Sya’ban 1324 (bertepatan dengan 14 Oktober 1906) di kota Mahmudiyah, sebuah kawasan dekat Iskandariyah. Nama lengkapnya adalah Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman al-Banna. al-Banna berasal dari sebuah keluarga pedesaan kelas menengah. Keluarganya termasuk penduduk “negeri seribu menara” Mesir.

 

Al-Banna adalah sosok pribadi mulia yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah bukan hanya pada bangsa Arab dan Islam, akan tetapi juga pada seluruh dunia hingga Amerika Serikat, Rusia, Afrika, bahkan ke jantung Eropa dan Australia. Al-Banna adalah pendiri dari Jama’ah Ikhwanul Muslimin yang banyak memberikan pengaruh di dunia

 

Ayahnya bernama Syaikh Ahmad al-Banna adalah seorang ulama fiqh dan hadits. putra bungsu kakeknya yang bernama Abdur Rahman, seorang petani. Ahmad dibesarkan dalam suasana yang jauh dari pertanian. Untuk memenuhi keinginan ibunya, ia masuk ke Pesantren Tahfidzul Qur’an di kampungnya kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Ibrahim Pasha di Iskandariyah. Di tengah masa studi, Ahmad juga bekerja di toko reparasi jam hingga menguasai yang terkait dengan jam. Dari profesi inilah kemudian ayahnya dikenal dengan as-Sa’ati (tukang reparasi jam). Selain itu, Ahmad juga menulis sebuah kitab berjudul al-Fathur Rabbani fi Tartibi Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibani. [1]

 

Sedangkan ibunda dari Hasan al-Banna bernama Ummu Sa’d Ibrahim Saqr. Ibundanya adalah tipologi wanita yang cerdas, disiplin, cerdik dan kokok pendirian. Apabila telah memutuskan sesuatu sulit bagi Ummu Sa’d untuk menarik mundur keputusannya. Ini senada dengan sebuah pepatah yang berbunyi, “Jika layar terkembang pantang biduk surut ke pantai.” Perhatiannya pada pendidikan membuatnya juga bertekad untuk menyekolahkan Hasan al-Banna hingga ke pendidikan tinggi. Ummu Sa’ad memiliki delapan delapan orang anak, yang masing-masing adalah: Hasan al-Banna, Abdurrahman, Fatimah, Muhammad, Abdul Basith, Zainab, Ahmad Jamaluddin, dan Fauziyah.

 

Sejak masa kecilnya, Hasan al Banna sudah menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan otaknya. Pada usia 12 tahun, atas anugerah Allah, Hasan kecil telah menghafal separuh isi Al-Qur’an. Sang ayah terus menerus memotivasi Hasan agar melengkapi hafalannya. Semenjak itu Hasan kecil mendisiplinkan kegiatannya menjadi empat. Siang hari dipergunakannya untuk belajar di  sekolah. Kemudian belajar membuat dan memperbaiki jam dengan orang tuanya hingga sore. Waktu sore hingga menjelang tidur digunakannya untuk mengulang pelajaran sekolah. Sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an ia lakukan selesai shalat Shubuh. Maka tak mengherankan apabila Hasan al Banna mencetak berbagai prestasi gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 tahun Hasan al Banna telah menghafal seluruh Al-Quran.

Hasan al-Banna menyelesaikan pendidikan dasarnya di Mahmudiyah. Di tahun ketujuh dalam usianya, lelaki yang selalu meraih rangking pertama dalam semua jenjang sekolahnya ini, menyelesaikan hafalan separuh al-Qur’an, kemudian menyempurnakan hafalannya di sekolah diniyah al-Rasyad. Hasan Al Banna lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik di sekolahnya dan nomor lima terbaik di seluruh Mesir. Setelah itu, melanjutkan ke sekolah Mu’allimin Awwaliyah di Damanhur, Pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum. dan menamatkan pendidikan tingginya di Darul Ulum (1923-1927). Demikianlah sederet prestasi Hasan kecil. Selain prestasinya di bidang akademik, Ia juga memiliki bakat leadership yang cemerlang. Semenjak masa mudanya Hasan Al-Banna selalu terpilih untuk menjadi ketua organisasi siswa di sekolahnya. Bahkan pada waktu masih berada di jenjang pendidikan i’dadiyah (semacam SMP), beliau telah mampu menyelesaikan masalah secara dewasa.

Lelaki yang aktif dalam organisasi sosial dan keagamaan ini mempunyai perpustakaan besar. Di dalam perpustakaan ini berisi ribuan kitab dalam berbagai disiplin ilmu dan empat belas majalah berkala yang terbit di Mesir. Al-Muqtathaf, al-Fath, dan al-Manar, adalah beberapa majalah yang ada di perpustakaan tersebut. Hingga sekarang, perpustakaan ini masih tetap berdiri, dan dikelola oleh putranya bernama Saiful Islam.

 

Pada 1927, setelah menamatkan pendidikan tinggi di Darul Ulum, al-Banna menjadi guru Sekolah Dasar di Ismailiyah selama sembilan belas tahun. Di tahun 1946, ia berpindah ke Kairo, kemudian mengundurkan diri dari jabatan sebagai guru negeri. Pada usia 21 tahun, beliau menamatkan studinya di Darul ‘Ulum dan ditunjuk menjadi guru di Isma’iliyah. Hasan Al Banna sangat prihatin dengan kelakuan Inggris yang memperbudak bangsanya. Masa itu adalah sebuah masa di mana umat Islam sedang mengalami kegoncangan hebat. Kekhalifahan Utsmaniyah (di Turki), sebagai pengayom umat Islam di seluruh dunia mengalami keruntuhan. Umat Islam mengalami kebingungan. Sementara kaum penjajah mempermainkan dunia Islam dengan seenaknya. Bahkan di Turki sendiri, Kemal Attaturk memberangus ajaran Islam di negaranya. Puluhan ulama Turki dijebloskan ke penjara. Demikianlah keadaan dunia Islam ketika al Banna berusia muda. Satu di antara penyebab kemunduran umat Islam adalah bahwa umat ini jahil (bodoh) terhadap ajaran Islam. Setelah itu, al-Banna berkonsentrasi pada surat kabar harian al-Ikhwan al-Muslimun.  

Jama’ah Ikhwanul Muslimin (selanjutnya disebut Ikhwan) adalah gerakan besar yang didirikan oleh al-Banna. Gerakan ini dibentuk pada bulan Dzulqa’dah 1347 H/1928 di kota Ismailiyah. Gerakan ini tumbuh dengan pesat dan tersebar di berbagai kelompok masyarakat. Sebelum mendirikan Ikhwan, al-Banna juga ikut mendirikan sebuah jamaah sufi bernama Thariqah Hashafiyah dan Jamaah Syubban al-Muslimin. Metode gerakan yang diserukan oleh Ikhwan adalah bertumpu pada tarbiyah (pendidikan) secara bertahap. Tahapan tersebut adalah dengan membentuk pribadi muslim, keluarga muslim, masyarakat muslim, pemerintah muslim, Negara Islam, Khalifah Islam dan akhirnya menjadi Ustadziyatul ‘Alam (kepeloporan dunia).[2]

Maka mulailah Hasan al Banna dengan dakwahnya. Dakwah mengajak manusia kepada Allah, mengajak manusia untuk memberantas kejahiliyahan (kebodohan). Dakwah beliau dimulai dengan menggalang beberapa muridnya. Kemudian beliau berdakwah di kedai-kedai kopi. Hal ini beliau lakukan teratur dua minggu sekali. Beliau dengan perkumpulan yang didirikannya “Al-Ikhwanul Muslimun,” bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll. Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/petani, usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah beliau. Pada masa peperangan antara Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an), beliau memobilisasi mujahid-mujahid binaannya. Dari seluruh Pasukan Gabungan Arab, hanya ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi, yaitu pasukan sukarela Ikhwan. Mujahidin sukarela itu terus merangsek maju, sampai akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah Mesir. Amerika Serikat, sobat kental Yahudi mengancam akan mengebom Mesir jika tidak menarik mujahidin Ikhwanul Muslimin. Maka terjadilah sebuah tragedi yang membuktikan betapa pengecutnya manusia. Ribuan mujahid Mesir ditarik ke belakang, kemudian dilucuti. Oleh siapa? Oleh pasukan pemerintah Mesir! Bahkan tidak itu saja, para mujahidin yang ikhlas ini lalu dijebloskan ke penjara-penjara militer. Bahkan beberapa waktu setelah itu Hasan al Banna, selaku pimpinan Ikhwanul Muslimin menemui syahidnya dalam sebuah peristiwa yang dirancang oleh musuh-musuh Allah. Ia memperjuangkan Islam menurut Al-Quran dan Sunnah hingga dibunuh oleh penembak misterius yang oleh banyak kalangan diyakini sebagai penembak ‘titipan’ pemerintah pada 12 Februari 1949 di Kairo.

Di antara karya penerus perjuangan beliau yang terkenal adalah Fi Dzilaalil Qur’an (di bawah lindungan Al-Qur’an) karya Sayyid Quthb. Sebuah kitab tafsir Al-Qur’an yang sangat berbobot di jaman kontemporer ini. Ulama-ulama kita pun menjadikannya sebagai rujukan terjemahan Al-Qur’an dalam Bahasa Indonesia. Di antaranya adalah Al-Qu’an dan Terjemahannya keluaran

Pribadi Hasan al-Banna menarik banyak kalangan. Abul Hasan Ali an-Nadwi, memberikan kesaksian tentang al-Banna: “Pribadi itu telah mengejutkan Mesir, dunia Arab dan dunia Islam dengan gegap gempita dakwah, kaderisasi, serta jihad dengan kekuatannya yang ajaib. Dalam pribadi itu, Allah Swt, telah memadukan antara potensi dan bakat yang sepintas tampak saling bertentangan di mata para psikolog, sejarawan, dan pengamat sosial. Di dalamnya terdapat pemikiran yang brilian, daya nalar yang terang menyala, perasaan yang bergelora, hati yang penuh limpahan berkah, jiwa yang dinamis nan cemerlang, dan lidah yang tajam lagi berkesan. Di situ ada kezuhudan dan kesahajaan, kesungguhan dan ketinggian cita dalam menyebarkan pemikiran dan dakwah, jiwa dinamis yang sarat dengan cita-cita, dan semangat yang senantiasa membara. Di situ juga ada pandangan yang jauh ke depan…”

Hassan al-Banna dikenal memiliki dampak yang besar dalam pemikiran Islam modern. Dia adalah kakek dari Tariq Ramadan dan kakak Gamal al-Banna. Untuk membantu menguduskan tatanan Islam, al-Banna menyerukan melarang semua pengaruh Barat dari pendidikan dan memerintahkan semua sekolah dasar harus menjadi bagian dari mesjid. Dia juga menginginkan larangan partai politik dan lembaga demokrasi lainnya dari Syura (Islam-dewan) dan ingin semua pejabat pemerintah untuk memiliki belajar agama sebagai pendidikan utama.

Al-Banna tidak menerima klaim sebagai suara Hadis bahwa semangat jihad adalah jihad yang lebih besar dan jihad pedang jihad kecil dan ia memuliakan aktif jihad defensif: “kematian tertinggi hanya diberikan kepada mereka yang membunuh atau yang gugur di jalan Allah Seperti kematian tidak dapat dihindarkan dan bisa terjadi hanya sekali. mengambil bagian dalam jihad adalah menguntungkan di dunia ini dan berikutnya.” Visi al-Banna pada aturan Jihad untuk umat dalam kutipan dari Lima Tracts Hasan al-Banna di mana ia akan kembali ke aturan-Hanafi: “Jihad dalam arti harfiah berarti untuk menempatkan sebagainya upaya maksimal seseorang dalam kata dan perbuatan, dalam UU Suci itu adalah membunuh orang-orang kafir dan konotasi terkait seperti memukul mereka, menjarah kekayaan mereka, menghancurkan tempat suci mereka dan menghancurkan berhala mereka.” dan “itu merupakan kewajiban bagi kita untuk mulai bertengkar dengan mereka setelah transmisi [undangan untuk memeluk Islam], bahkan jika mereka tidak memerangi kita.

 

I.1 SUMBANGAN HASAN AL-BANNA TERHADAP GERAKAN IKHWAN MUSLIMIN

Sesungguhnya melakukan studi terhadap pustaka yang ditinggalkan oleh Imam Hasan Al Banna perlu mendapatkan perhatian, terutama terkait fiqih politik (Fiqih Siyaasi) Beliau. Beliau merupakan seorang pembaru (mujaddid) abad kedua puluh tanpa perlu dipertentangkan. Beliau semasa hidupnya berpikir keras terhadap berbagai permasalahan dunia Islam dan terhadap keadaan ummat Islam, terutama masalah konspirasi terhadap negara Islam.

Ustadz Hasan Al Banna berusaha mengumpulkan para ulama dan pemimpin untuk sebuah proyek kerja besar, yakni meneruskan kembali kehidupan Islam dan membebaskan negara-negara umat Islam dari kaum penjajah. Beliau melihat mayoritas kaum Muslimin dalam keadaan kehilangan semangat dan ketakutan yang sangat kentara. Tetapi Beliau tidak putus asa terhadap berbagai situasi dan kondisi yang menhancurkan tersebut. Bahkan Beliau berinisiatif dimulai dari dirinya sendiri untuk bekerja, mengumpulkan dan menyusun rencana. Dengan beberapa suara Muslimnya, Beliau mendirikan Jama’ah Ikhwanul Muslimin di daerah Isma’iliyah.
Pemikiran Beliaupun diserap oleh banyak orang, sehingga menyebabkan Beliau dicintai sangat luas yang mana hal itu belum pernah terjadi untuk satu orangpun dari para pemimpin di daerahnya, lalu mereka mengikuti jalan dan pemikiran Beliau serta menjadi tentara dan pengikutnya.

1.a. Politik

Di antara hal yang tidak diragukan lagi ialah da’wah Beliau itu berkomitmen dengan Islam, baik sebagai aqidah, syari’ah dan sistem kehidupan. Beliau menjelaskan da’wah tersebut dalam berbagai sisinya: politis, da’wah, gerakan, penyusunan strategi dan ekonomi. Orang yang mengamati apa yang Beliau tulis dalam risalah-risalah dan diktat-diktat Beliau akan menemukan bahwa Imam Hasan Al Banna adalah seorang pemimpin politik yang diikuti masyarakat banyak. Beliau memiliki pemahaman politik Islam (Fiqih Siyasi Islami) yang diambil dari pemahaman kalangan intelektual dan ulama Islam.

Imam Hasan Al-Banna kembali menegaskan bahwa Islam adalah agama yang komprehensif; mencakup semua aspek kehidupan umat manusia. Beliau juga mengkritik paham sekulerisme yang mendikotomi antara otoritas agama dengan otoritas politik dan pemerintahan. Dengan lantang Beliau mengungkapkan bahwa gerakan Islam manapun yang tidak menyertakan permasalahan politik dan pemerintahan dalam program mereka, maka pergerakan tersebut belum pantas dinamakan gerakan Islam dalam konsep pemahaman Islam yang komprehensif.
Bidang politik sebagai salah satu elemen kehidupan, jelas tidak dapat dipisahkan dengan moralitas. Dalam Islam, kepedulian umat terhadap politik sudah muncul semenjak lahirnya Islam. Pertikaian kaum muslimin dengan kaum musyrikin mustahil mampu diatasi jika tidak menggunakan strategi (baca: politik) yang jitu. Namun, politik yang dimaksudkan Islam jelas yang berperadaban, bermoral, humanis, tidak menghalalkan segala cara, serta mengacu pada kaidah fiqhiyyah: “Tasharraful Imam ‘Ala al-Ra’iyyah, Manuthun bi al-Mashlahah”, bahwa kebijakan penyelenggara negara atas rakyat harus senantiasa mengedepankan kemaslahatan.
Dalam konferensi para mahasiswa Ikhwanul Muslimin yang diselenggarakan bulan Muharram tahun 1357H, Imam Hasan Al-Banna menyampaikan: “Dengan lantang saya kumandangkan bahwa keislaman seorang Muslim belum sempurna, hingga ia memahami masalah politik, mendalami persoalan-persoalan aktual yang menimpa umat Islam serta punya perhatian dan kepedulian terhadap masalah keumatan. Dalam kesempatan ini, dengan lantang saya ungkapkan bahwa pendikotomian agama dengan politik tidak diakui oleh Islam. Karena setiap pergerakan Islam sejak awal harus meletakkan misi dan programnya menyangkut masalah kepedulian terhadap problematika politik umat. Karena bila tidak, berarti pergerakan Islam tersebut mesti mengkaji pemahaman konsep Islam mereka kembali. ( Hasan al-Banna 1949: 85)
Benar Itulah fakta yang selalu mengaspirasikan bahwa tiada kebaikan dalam agama yang menafikan politik dan sebaliknya politik yang hampa nilai-nilai agama, karena politik semacam ini merupakan politik dalam konsep Barat. Sementara Islam dengan politiknya membawa misi pembahagiaan manusia di dunia maupun akhirat kelak, sebuah politik yang melindungi semua hak mereka, sehingga diharapkan pada suatu masa nanti umat Islam dan non-Islam menggunakan etika politik Islam yang akan melahirkan kebahagiaan bagi mereka. Sehingga mereka bisa hidup tenang, damai dan tenteram serta terlindungnya nyawa, harta dan kehormatan mereka. (Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris)

1.b. Ekonomi

Sulit. Demikianlah kiranya jika kita hendak memisahkan sosok seperti Hasan Al Banna dari peta perjalanan kebangkitan Islam di paruh awal abad 20. Namanya dan sosoknya demikian unik untuk kembali dibedah.Seiring dengan semakin maraknya aroma kebangkitan yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam itu kian menjalar dan bergelora di pelosok bumi Islam. Ketika Majmuat Rasailnya dan risalah pergerakannya terbit sebagai jawaban atas banyaknya permintaan yang masuk pada beliau agar membukukan seluruh visi dan gagasannya akan kebangkitan Islam dan dari mana harus dimulai. Maka tak bisa dipungkiri gagasannya ternyata tak hanya mencakup idea-idea politik semata namun juga seruan reformasi ekonomi umat dengan berpijak pada nilai-nilai islam. Lalu system ekonomi itu mampu memberdayakan potensi spiritual masyarakat dan kekuatan sosialnya. Mampu membangun keseimbangan antara produksi dan eksplorasi, antara investasi dan penyimpan. Serta antara ekspor dan impor.

Hasan Al Banna menekankan pada produktivitas kerja dan kestabilan perekonomian sektor riil ditopang dari produktivitas kerja itu sendiri. Hal ini juga selaras dengan perintah dari Allah dan RasulNya. “Dan katakanlah , “Bekerjalah kalian maka Allah dan RasulNya , dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata (At Taubah:105)

Selain itu semua, yang paling vital dalam reformasi ekonomi Ummat adalah memerangi dan mengharamkan riba. Juga menyerukan menghancurkan berbagai system yang dibangun di atasnya. Sekilas Nampak seperti gagasan Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam Nizhamul Iqtishod mengenai revolusi ekonomi yang merombak total system kapitalisme saat ini dan menggantikannya dengan system ekonomi Islam. Namun membaca dan menelaah keseluruhan karya beliau, Hasan Al Banna, sulit rasanya untuk segera mengambil kesimpulan bahwa itulah secara literal yang dikehendaki. Namun, Hasan Al Banna ternyata memberikan contoh dari yang paling sederhana yaitu menghapuskan bunga atau interest dalam pelbagai proyek ekonomi secara khusus. Masih ada sejumlah langkah dan taktik yang digagas oleh Hasan Al Banna dan dijadikan referensi bagi para penggiat dan stakeholder ekonomi Ummat dalam rangka pembenahan . Kesemuanya mengacu pada dukungan reformasi di sektor Riil serta produktifitas kerja masyarakat.

I.2. HASAN AL-BANNA : GERAKAN REFORMASI ISLAM ABAD 14

1.0. Gerakan Tarbiyah Hasan Al-Banna

Imam Hasan al-Banna memiliki peran penting dalam upaya pendekatan antar berbagai aliran-aliran Islam dan upaya untuk menyatukan mereka semuanya di atas satu kalimat. Tujuannya agar persatuan kaum muslimin dapat terjalin dan keutuhan mereka terjaga, sehingga mereka bersatu padu menghadapi musuh bersama. Namun, tangan-tangan terselubun yang melakukan tipu daya terhadap islam mengadakan persekongkolan terhadap sebagian kaum muslimin ( Dr. Muhammad Sayyid al-Wakil 2001:323)

Hasan al-Banna memahamkan para pengikutnya untuk sentiasa mengkader belia dan selalu mengkontrol mereka agar tetap selalu berbuat baik dan mengerjakan suruhan agama dan meninggalkan larangan. Tazkiyah nafs sangat berperan dalam mentarbiyah, disamping itu Hasan al-Banna juga memahamkan maksud “al-fahm” dengan rincian yang beliau sebut al-Usûl `isyrîn, ikhlas, `Amal, Jihad, Taat, Stabat, Tadhhîyah, Tajarrad, ûkhwah, Tsiqqah. Sifat-sifat ini haruslah dimiliki seorang Murabby “yang mengajar” dan yang diajar. Semua ini lebih beliau tekankan terhadap para belia dan pelajar, walaupun proses ini membutuhkan waktu yang panjang. Namun, merekalah nantinya yang akan menjadi penerus tarbiyah ini. (Umar al-Talmasâny 1984: 128))

2.0. Gerakan Dakwah Hasan Al-Banna

Hasan al-Banna barangkali adalah batu asas pertama yang memberikan nafas, penunjuk arah kepada bagaimana seharusnya gerakan dakwah Islamiyyah itu harus memainkan peranannya. Pada zaman moden, tak salah jika kita katakan bahawa mujahid dakwah ini telah meletakkan asas-asas kepada gerakan Islam. Buah fikir dakwahnya benar-benar jauh menjelajah di mana-mana belahan dunia Islam dan mempengaruhi gerakan Islam yang tumbuh kemudiannya.

Berdiri daripada hakikat ini, maka kita boleh mengiktiraf kedudukan dahwah dan tarbiyyah Ikhwan Muslimin pimpinan beliau sebagai induk kepada dakwah di seluruh dunia ketika Rasulullah tiada lagi di sisi kita. Keunikan Hasan al-Banna menurut tanggapan peribadi saya, terletak kepada kekuatan dan kesungguhan beliau melihat potensi mahasiswa di universiti sehingga wujud suatu acara yang benar-benar menumpukan kepada usaha membangun potensi mahasiswa itu sehingga berada pada tempatnya yang sebenar.

Dakwah Al-Ikhwan Al-Muslimun memiliki ciri khas tersendiri sejak awal berdirinya; memiliki prinsip kembali pada dua sumber asal Islam yaitu kitab dan sunnah, melepaskan diri dari berbagai pertikaian dan perkhilafan parsial dan mazhab. Dan imam Al-Banna memfokuskan alasannya terhadap pentingnya mengerahkan tenaga dan potensi untuk melakukan pembinaan generasi yang beriman dan memahami Islam secara benar dan kaffah; bahwa Islam adalah agama dan negara, ibadah dan jihad, syariat dan konstitusi, agama yang menata kehidupan umat manusia seluruhnya dari berbagai sisi; tarbiyah, ekonomi dan politik.

Kebanyakan lingkup dakwah Islam pada saat itu hanya berkisar pada dua aliran utama: Dakwah salafiyah dan Tariqah Sufiyah, dan pertikaian diantara keduanya sering terjadi bahkan berakibat pada permusuhan dan perselisihan yang sangat runcing, padahal ideologi Islam tidak seperti yang dipersepsikan, dan sudah terdapat di materi-materi kuliah di universitas Al-Azhar, ada dalam katalog dan pustakanya, kecuali yang dilakukan oleh gerakan jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha, sehingga memberikan pengaruh yang besar pada diri Imam Hasan Al-Banna. Karena itu dakwah imam Al-Banna adalah kembali pada universalitas Islam yang mencakup berbagai sisi kehidupan, dan hal tersebut merupakan tajdid (pembaharuan) pada bidang ideology Islam. Imam Al-Banna di Ismailiyah, disana tempat beliau mendirikan jamaah, mendirikan masjid dan darul ikhwan, ma’had Hira Al-islami, serta madrasah Ummahatul Mukminin, dan dari sana dakwahnya menyebar ke pelosok desa dan kota yang berada disampingnya.

3.0. Gerakan Reformasi dan Sumbangan Hasan Al-Banna terhadap Ikhwan Muslimin

Pada awalnya Hasan al-Banna dengan 6 orang Al-Ikhwan (Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Hashry, Pu`ad Ibrahim, Abdurrahman Hasballah, Ismail Izz, Zaky Maghriby) melakukan mu’ahadah (perjanjian) yang bersepakat mendirikan harakah Islamiyah yang mereka namakan dengan ”Jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimun”, yaitu pada bulan Dzul Qaidah tahun 1347, atau bertepatan dengan bulan Maret tahun 1928. Dan beliau juga bersama 6 Ikhwah tersebut terus melakukan dakwah kepada Allah dan sibuk berfikir terhadap dakwah tersebut. Beliau mengajak kawan-kawannya untuk berdakwah di berbagai majlis, café, dan club-club pertemuan.
Namun, Pada tahun 1932 imam Al-Banna pindah ke Kairo, dan dengan berpindahnya beliau kesana maka kantor Pusat Al-Ikhwan Al-Muslimun juga pindah ke kairo. Di Kairo, beliau banyak melakukan rihlah memantau aktivitas masyarakat di pedesaan dengan ditemani oleh ikhwan yang lain yang baru dibina, guna memberikan pelajaran kepada mereka akan akhlak dakwah sehingga dapat memiliki kemampuan melakukan dakwah secara maksimal pada masa yang akan datang. Dan beliau memantau aktivitas dakwah secara terus menerus dan teliti, sehingga dakwahnya tersebar ke berbagai penjuru kota dan desa di Mesir. Maka tampak gerakan Al-Ikhwan Al-muslimin sebagai generasi dari para pemuda yang beriman dan berilmu yang menganggap bahwa peradaban Barat lebih kecil dari peradaban Islam, dan memiliki keyakinan bahwa tidak ada benturan antara hakikat ilmiyah yang shahih (benar) dengan qaidah syar’iyyah yang baku. Dan Jamaah Al-Ikhwan menyadari bahwa dalam shaf (barisan) umat Islam terdapat ragam jenis, dan ragam bangsa. Namun demikian mereka, khususnya para pemuda yang cendekia, atau pemuda yang dalam jiwa teradapat ghirah Islam yang tinggi, berusaha membawa berita dan ajaran Islam yang kaffah di tengah umat Islam guna memberikan pemahaman akan hakikat Islam yang telah di tulis dalam kitab Al-Qur’an dan disampaikan oleh Nabi saw. Alangkah baiknya jika satu gerakan menjadi sayap -secara tidak langsung- kepada gerakan yang lain. Dan begitulah sebaliknya.

Mengoreksi Perisytiharan Permatang Pauh secara berterusan adalah sesuatu yang perlu agar ia sentiasa berada di atas landasan reformasi sunni. Juga sebagai penerus budaya reformasi yang dilakukan oleh mereka yang terdahulu.

“.. Al-Ikhwan jelas mempunyai ideologi atau seperti yang mereka namakan: fikrah. Islam sebagai satu ideologi, oleh mereka dipandang mencakup seluruh kegiatan hidup manusia di dunia, sehingga merupakan doktrin, ibadat, tanah air, kewarganegaraan, agama, negara, spirituallitas, aksi, al-Quran dan militer. Semangat al-Ikhwan adalah kembali ke dasar-dasar Islam, hal ini menjadi inti dari dokrin kebangkitan Islam.

Al-Ikhwan kebanyakan menganggap gerakan mereka sebagai kelanjutan gerakan tajdid yang dipelopori oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhamad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka menggambarkan hubungan tokoh-tokoh tajdid dengan al-Ikhwan sebagai berikut:
Al-Afghani sebagai penyeru (muazzin), Ridha sebagai pencatat (sijal, muarrikh), dan Hasan al-Banna sebagai pembangun (Bani) kebangkitan Islam. Namun perlu dicatat bahawa pemahaman Islam Hasan al-Banna jauh lebih revolusioner daripada tokoh-tokoh reformatif sebelumnya, berhubung baginya Islam pada dasarnya adalah revolusi.

Bagi al-Banna, Islam adalah revolusi (tsaura) melawan korupsi pemikiran dan korupsi hukum (fasad fi al-fikr wa fasad fi al-hukm), revolusi menentang korupsi moral dan opresi sosial, revolusi terhadap monopoli (ihtikar) dan terhadap perampasan kekayaan rakyat secara sewenang-wenang (al-akhz amwal an-nas bi al-bathil)” (Dr. M.Amien Rais, Cakrawala Islam, hal. 189)
Reformasi yang diserukan oleh Hasan al-Banna adalah diperkirakan sebagai reformasi yang lengkap dan mencakup seluruh sendi-sendi agama. Usaha Al-Ikhwan dalam mewujudkan tujuannya yang dibangun untuknya masih terus berjalan; yaitu melakukan perbaikan dan memberantas kerusakan di tengah masyarakat dalam berbagai tingkatan, dan memerangi penjajahan Inggris serta memberantas gerakan-gerakan destruktif. Usaha ini dilakukan sejak hari pertama didirikan oleh Imam Syahid Al-Banna jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimun hingga saat ini, sekalipun terdapat pertentangan oleh rezim berkuasa saat itu namun karena banyak kerusakan yang menimpa masyarakat, akhirnya usaha ini masih terus berjalan.

Disini penulis berusaha menjabarkan usaha mereka melakukan perbaikan pada bidang yang juga merupakan suatu bahaya dalam menyebarkan ruh kerusakan atau melakukan penanggulangan yang dianggap sebagai senjata ampuh dan tajam menghancurkan masyarakat; yaitu memerangi berbagai sarana media yang menyebarkan berita dan gambar-gambar cabul dan mesum.
Sejak awal mendirikan jamaah, imam Al-Banna telah menyadari akan pentingnya media dan peranannya yang signifikan dalam memberikan pengaruh terhadap masyarakat, maka beliapun berusaha mengambil dengan membuat media-media al-ikhwaniyah; seperti majalah mingguan Al-Ikhwan Al-Muslimun pada era tahun 30 an, dan majalah setengah bulan dan harian Al-Ikhwan Al-Muslimun pada era tahun 40 an, majalah As-Syihab, majalah At-Ta’aruf dan majalah Kasykul al-jadid; untuk menjadi bagian dari mimbar menyebarkan kebenaran dan sarana dalam menghadapi majalah dan media yang memiliki tujuan menyebarkan aib, pornografi, nilai-nilai tercela dan nista.

Al-Ikhwan melakukan cara ini melalui dua poros:  Poros pertama: Menghadirkan contoh yang baik dalam bermedia.Poros kedua: Menghadang media-media yang menyebarkan kekejian, cabul, mesum dan porno.  Pada saat itu masyarakat sudah penuh dengan berbagai fenomena kerusakan, telah menyebar di tengah mereka tanpa ada rasa malu; di kedai-kedai kopi, di diskotek-diskotek, pada hiburan-hiburan malam, di tempat pemandian, minuman khamr, merokok, obat terlarang; narkoba, perzinahan secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, nyanyian dan tarian yang mengumbar syahwat, rumah-rumah bedeng penampung pelacuran dan lain-lainnya; sehingga para penyeru kerusakan ini selalu muncul di depan lembaran-lembaran utama media cetak, media elektronik dan media lainnya dengan bentuk yang menjijikkan. Sebagaiman di koran-koran penuh dengan gambar wanita yang telanjang sebagai bagian dari iklan khamr, iklan rokok atau rumah-rumah diskotek dan tindakan keji. Seperti yang terjadi misalnya pada Koran Al-Ahram (dari tanggal 1-8 januari tahun 1928), dan pada dua Koran (al-wafdiyah dan majalah) dan lain-lainya banyak sekali.

Al-Ikhwan berusaha memberikan arahan terhadap media-media yang ada dengan cara yang baik dan benar, sehingga dengannya menyebarkan nilai-nilai mulia dan menjaga adab, etika serta akhlak, memberikan peringatan kepada masyarakat akan kejahatan media-media yang merusak, yang hanya menampilkan gambar pengumbar syahwat dan menyebarkan foto-foto wanita bertelanjang dan pakaian mini, menebarkan aib dan cela bukan etika-etika agama dan kaidah-kaidah akhlak. Dalam satu makalah tabloid mingguan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang bertema “faktor-faktor kehancuran” dijelaskan bahwa faktor-faktor kehancuran ada 3 macam:

1. Faktor pertama adalah ajaran mesum yang telah menyebar di daratan Eropa dan menyebarkannya di tengah masyarakat, dengan alasan untuk dapat diambil faedah yang banyak dan terang seterang sinar matahari di siang hari.

2. Faktor kedua adalah maraknya berdiri cinema-cinema (bioskop) rendahan yang mempertontonkan film-film percintaan, kekerasan dan mesum.

3. Faktor ketiga adalah musim panas yang di dalamnya terdapat pelanggaran dan prilaku yang keluar dari nilai-nilai Islam yang suci, dan akhir-akhir ini pemerintah telah serius membuat undang-undang tentang etika saat berada di pantai.

Sayyidah Labibah Ahmad telah menulis makalah dengan judul “cinema dan akhlak”, dalam makalah tersebut beliau menyebutkan bahwa : “Cinema merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam pertumbuhan umat dan pembentukan akalnya serta merekayasa akhlaknya, walaupun tidak dipungkiri cinema juga memberikan manfaat; yaitu memperluas pengetahuan masyarakat, namun bahayanya lebih besar, karena film-filmnya yang ditayangkan di dalamnya menghembuskan nafas penyimpangan dalam masyarakat dan yang menghembuskan hawa nafsu lebih banyak daripada hembusan yang bermanfaat untuk mereka dalam memperluas wawasan dan meluruskan akhlak masyarakat.

Dan memang tidak diragukan, bahwa penerimaan masyarakat terhadap film cerita-cerita bernuansa Mesir lebih besar daripada penerimaan mereka terhadap film imfor dari asing; Mesir mampu menghilangkan secara bertahap berbagai film-film asing yang diadukan darinya berefek negatif dan merusak; melalui pemantauan terhadap cinema dalam membela nilai-nilai dan mempertegas akan bahaya dan tindakan keji yang ada di dalamnya, sehingga menambah para sutradara Mesir berani melakukan cara ini. Dan pada akhirnya pada usaha ini Al-Ikhwan mendapatkan dua hasil sekaligus walau dalam satu lemparan; salah satunya dan yang menjadi tujuan utama adalah berpihaknya cinema-cinema di Mesir terhadap sisi akhlak, dan yang kedua memotivasi para sutradara lokal untuk meminalisir impor cerita-cerita film asing yang tidak menggambarkan akhlak yang bukan dari akhlak Islam, mengatur lingkungan yang bukan lingkungan Islam. Al-Ikhwan menulis ini semua dengan segenap kemampuan untuk mengumpulkan hakikat pengingkaran terhadap kejahatan ini dari para orang tua, ibu-ibu, wanita dan suami-suaminya, dan berharap kepada mereka semua untuk mendidik anak-anak perempuan, saudara-saudara dan istri-istri mereka tentang kemuliaan Islam dalam kehidupan mereka.
Koran “Al-Ikhwan Al-Muslimun” juga menurunkan berita bahwa ustadz Taufiq al-Hakim telah menyampaikan peringatan kepada tim sensor film-film di cinema yang di dalamnya disebutkan fenomena negatif yang menyebar akibat film-film di cinema, sehingga menjadi momok yang metakutkan dan kekhawatiran akan hilangnya peradaban dan kehidupan madani, betapa menakjubkan ucapan beliau: “Bahwa akhlak dapat berakibat kebalikan bagi pemiliknya”, hal ini disampaikan setelah ucapan beliau sebelumnya: “Dan yang lebih tampak dari tanda-tanda keahncuran dari suatu kebudayaan adalah menyebarnya perbuatan keji, kehinaan, kerusakan akhlak dan tenggelam dalam kejahatan; bahwa mereka merasa merdeka dan bangga dengan itu semua sehingga -seakan- mereka telah berubah wujud menjadi seekor hewan yang tidak punya etika, dan bisa jadi hal tersebut merupakan tanda berakhirnya kehidupan masyarakat madani, sebagaimana berakhirnya kehidupan madani di Asyur, Babilonia, Yunani, Rowami dan Arab di Andalusia.
Sebagaimana Al-Ikhwan juga menegaskan dalam korannya akan kerusakan yang disebarkan oleh siaran radio, pada makalah yang berjudul “siaran radio elektronik membuat kering dan gemuk seseorang dalam jangka waktu setengah minggu”, dan Koran tersebut terus melakukan pemantauan dan mengarahkan para pembaca tentang waktu-waktu potensial dan sarat dengan program yang bermanfaat pada siaran radio di Mesir.  Sebagaimana Al-ikhwan Al-Muslimun juga menulis beberapa mudzakirah di ma’had seni dan tari, guna menandingi koran-koran mesum yang selalu menyebarkan akhlak keji tanpa ada rasa canggung dan malu; yaitu disaat masyarakat Mesir terlelap dengan bacaan Koran-koran tersebut dan menerima sebagian isi dari koran yang penuh dengan gambar-gambar tak senonoh, sehingga mengarah pada penyebaran kerusakan khususnya para pemuda yang merupakan tonggak kebangkitan suatu umat.
Dan dengan peristiwa tersebut para pemimpin lembaga sosial Islam seperti jam’iyyah syubban Al-Musimin, Anshar As-Sunnah, Al-Muslim Al-amil, Al-Ikhwan Al-Muslimun, Anshar Al-Ihsan, Al-Jihad Al-Islami, At-ta’aruf Al-Islami, mengirimkan peringatan kepada menteri dalam negeri yang isinya adalah: “Bahwa diantara penyebab utama hilangnya investasi dan potensi serta kekuatan dalam diri para pemuda adalah larinya sebagian besar kelompok mereka pada kenikmatan dari hal-hal yang mengarahkan mereka pada pengetahuan yang bermanfaat dan tidak pandai memanfaatkan waktu kepada sesuatu bermanfaat dan perbuatan yang semisalnya.
Dan diantara inti dari kemungkinan ditemukannya kehancuran ini adalah:
1. Tidak adanya usaha sebagian media masa untuk menghentikan penyebaran berita dan gambar-gambar yang dapat mengobarkan syahwat dalam tubuh para pemuda sehingga masuk ke dalam tubuh mereka dan menjadi suatu kebiasaan sehari-hari.

2. Tidak adanya pantauan dan sensor terhadap film-film di cinema-cinema, sehingga dapat merusak kelompok besar dari para orang tua, dan menimpa anak-anak laki dan anak-anak perempuan mereka pada akhlak tercela, bahkan menimpa dua kelompok ini secara langsung; yaitu melalui iklan-iklannya yang ditempel diatas tembok, baliho dan tiang-tiang, yang mayoritasnya adalah gambar-gambar tentang ciuman antar dua sejoli yang -semestinya- tidak boleh ditampakkan dihadapan umum terutama dihadapan kelompok yang masih memiliki kesucian, agar tidak terjerumus pada perbuatan tersebut atau terbiasa melihat adegan itu dan pada akhirnya ingin mencoba, betapa banyak hal tersebut terjadi dan memberikan pengaruh yang negatif dan hasil yang menyedihkan.

3. Ada juga siaran radio elektronik seperti halnya Koran dan cinema, mungkin juga bisa sebagai alat tatsqif dan tahdzib (pengkondisian akhlak), dan mungkin juga bisa menjadi salah satu sarana dari berbagai sarana lain untuk menggelorakan syahwat dan membiasakan telinga untuk mendengarkan hal-hal yang dibenci oleh para pembela nilai-nilai kemuliaan.
Oleh karena itu usaha yang dilakukan oleh Al-Ikhwan dan orang-orang yang ikhlas dari umat Islam, mampu menjadikan Abdul Fattah At-tawil, menteri kesehatan saat itu mengeluarkan undang-undang yang melarang anak-anak yang belum mencapai umur baligh (rusyd) menyaksikan film-film yang ada di cinema; agar tidak terpengaruh dengan kerusakan yang terdapat dalam film tersebut. Bahkan usaha Al-Ikhwan tidak hanya berhenti sampai disitu, namun juga berusaha melakukan pemberantasan kerusakan pada sarana media elektronik dan cetak yang bukan hanya pada tahap pengenalan saja, yang berjalan sejak tahun 1928 hingga tahun 1938, namun juga pada usaha hingga pada tahap berikutnya; mulai dari dakwah hingga syahidnya imam Hasan Al-Banna.

II. Hasan Al-Banna Dan Pemikiran Politik Ikhwan

Empat tahun yang dihabiskan Imam Syahid Al-Banna di Kairo membuatnya terkena gejolak politik Mesir di awal 1920-an, dan meningkatkan kesadaran tentang sejauh mana cara-cara sekuler dan Barat telah menembus masyarakat. Saat itulah Al-Banna menjadi sangat sibuk dengan kenyataan bahwa generasi muda menjauh dari Islam. Dia percaya bahwa hati dan pikiran pemuda mejadi sesuatu yang penting bagi kelangsungan hidup agama yang dikepung oleh serangan gencar Barat. Sambil belajar di Kairo, ia menenggelamkan diri dalam tulisan-tulisan para pendiri reformisme Islam (gerakan Salafiyyah), termasuk “Muhammad Abduh (1849-1905), Rasyid Ridha (1865-1935). Keduanya diyakinisangat memengaruhi Al-Banna.

Al-Banna adalah seorang pembaca Al-Manar yang penuh dedikasi, majalah yang diterbitkan oleh Ridha di Kairo dari 1898 sampai wafatnya pada tahun 1935. Ia mempelajari buah pikiran Ridha tentang kepedulian penurunan peradaban Islam menuju Barat. Dia juga percaya bahwa kecenderungan ini dapat dihindari hanya dengan kembali ke bentuk Islam yang murni.

Imam Hasan al-Banna menyatakan: “Islam tidak mengenal batas wilayah geografis, tidak juga mengakui perbedaan ras dan darah, mengingat semua Muslim sebagai kesatuan umat. Ikhwan menganggap ini kesatuan yang kudus dan percaya dalam persatuan ini. Ikhwan bersama semua umat Islam memperkuat ukhuwah Islam, menyatakan bahwa setiap inci tanah yang dihuni oleh umat Islam adalah tanah air mereka Ikhwan tidak menentang setiap orang yang memperjuangkan tanah air mereka sendiri. Mereka percaya bahwa khalifah merupakan simbol Persatuan Islam.”

Didirikan di Mesir pada tahun 1928, Ikhwan adalah sebuah organisasi yang terpolarisasi sebagai reaksi terhadap ideologi barat dan menjadi yang pertama berbasis massa. Dari awal, Ikhwan telah mengikrarkan diri sebagai gerakan untuk menentang kekuasaan ide-ide sekuler dan Barat di Timur Tengah. Ikhwan bahkan telah melihat ide-ide sekuler itu sebagai pembusukan masyarakat Islam di dunia modern. Imam Hasan secara tegas menganjurkan kembali kepada Islam sebagai solusi untuk penyakit-penyakit yang menimpa masyarakat Muslim. Dalam hal ini, Imam Hasan Al-Banna telah memosisikan Islam untuk menghentikan banjir invasi budaya Barat.

Kepemimpinan Al-Banna merupakan tonggak penting dalam pertumbuhan spektakuler Ikhwan selama tahun 1930-an dan 1940-an. Pada awal 1950-an, cabang Ikhwan telah didirikan di Suriah, Sudan, dan Yordania. Tak lama, gerakan itu meluas pengaruhnya ke tempat-tempat di luar Teluk dan negara-negara non-Arab seperti Iran, Pakistan, Indonesia, dan Malaysia.

Sejak awal, tujuan Ikhwan adalah bergerak dalam bidang sosial dan politik, mempromosikan kebaikan, amal dan pengembangan di satu sisi, dan kemerdekaan Islam di sisi lain. Melalui sejarah Ikhwan, Islamisme berarti reformasi masyarakat. Tujuan ini telah diperluas untuk mencakup pendirian syari’at secara penuh. Sejak awal, al-Banna khawatir dengan memburuknya kondisi umat Islam di Mesir dan di tempat lain di seluruh dunia. Dengan tegas, Imam Hasan menolak gagasan politik Pan-Islam. Imam Hasan tak pernah lelah mendengungkan persatuan bangsa-bangsa Islam.

Imam Hasan Al-Banna, akar ideolog Ikhwan, menyatakan bahwa misi Ikhwan adalah untuk mencapai dua tujuan: kemerdekaan negara-negara Muslim dari dominasi asing, dan pembentukan sebuah sistem sosial politik Islam.Dia percaya bahwa menghidupkan dan membangkitkan umat mau tidak mau harus dimulai dengan individu, menekankan bahwa mampu membangun kembali masyarakat Muslim harus memiliki tiga kualitas: kekuatan rohani diwujudkan melalui penentuan individu dan integritas dan pengorbanan diri, pengetahuan tentang prinsip-prinsip Islam, dan kemampuan untuk menghubungkan prinsip-prinsip Islam untuk kehidupan nyata dan menerapkannya secara efektif dengan kondisi praktis.Tidak ada ruang dalam pikiran mereka untuk berkompromi dengan adat istiadat, Islam merupakan suatu sistem terpadu dan sempurna dan pengenalan unsur asing dalam skala besar ke dalam masyarakat Muslim harus dihindari.

Dalam waktu kurang dari dua puluh tahun, Ikhwan tumbuh dari sebuah asosiasi kecil, di kota Isma’iliyah, menjadi sebuah kekuasaan politik yang besar dengan banyak cabang yang tersebar di seluruh Mesir. Imam Hasan Al-Banna memperkenalkan sebuah struktur kerja yang hebat dalam mengatur Ikhwan. Berbagai cabang Ikhwan di setiap provinsi dipimpin oleh sebuah dewan administrasi (maktab idari) terdiri dari anggota Dewan Eksekutif (majlis idari) dari cabang pusat di provinsi, serta wakil-wakil dari seluruh cabang di provinsi itu. Dewan administrasi yang pada gilirannya dihubungkan bersama melalui kantor pusat Ikhwan (al-Markaz al-‘amm), terletak di Kairo. Markas dibagi menjadi beberapa komite khusus dan departemen: Komite Umum, Komite Pendidikan, Departemen Tenaga Kerja, Departemen Kepanduan, Departemen Propaganda, Departemen Pembinaan Keluarga, Departemen Sosial, Departemen Komunikasi dengan DuniaMuslim, dan Departemen Persaudaraan Muslimah.

Kepemimpinan Ikhwan sendiri dibagi menjadi tiga bagian: Majelis Pendiri (al-hay”a / i al-ta” sisiyah) terdiri dari seratus anggota yang mewakili berbagai provinsi dan cabang, (Majelis ini adalah badan pembuatan kebijakan yangmenetapkan kebijakan umum); kekuasaan eksekutif ditugaskan ke Kantor Eksekutif (al-maktab al-tanfidhi), yang terdiri dari dua belas anggota dan dipimpin oleh al’amm al-Murshid; yang anggotanya dipilih oleh sebuah komite khusus, yang dikenal sebagai Komite Keanggotaan (maktab ‘udwiyah). Komite ini juga bertanggung jawab untuk menyelidiki semua tuduhan yang dibuat terhadap anggota Majelis Pendiri, dan jika perlu mendisiplinkan mereka.

Untuk mencapai tujuan Ikhwan, Imam Hasan al-Banna menyerukan pendekatan yang perlahan di mana reformasi yang diinginkan dapat dicapai melalui tiga tahap. Pertama adalah tahap komunikasi yang ditujukan untuk memperkenalkan prinsip-prinsip Islam sejati kepada masyarakat Mesir. Kedua adalah tahap mobilisasi dan organisasi gerakan yang akan memilih dan melatih anggota aktif. Akhirnya datang tahap melaksanakan dan menerapkan aturan Islam dan prinsip-prinsip di mana suatu masyarakat benar-benar berubah menjadi satu kesatuan dalam Islam. Meskipun al-Banna tidak secara eksplisit menguraikan karakteristik dari masing-masing tahap, atau kapan dan bagaimana masing-masing mulai dan berakhir, dia menekankan berulang kali bahwa Ikhwan punya cara panjang sebelum mereka bisa mencapai reformasi Islam, dan bahwa mereka tidak tertarik dalam taktik revolusioner. Dia juga memperingatkan orang-orang di antara Ikhwan yang mencari hasil instan bahwa mereka juga harus belajar untuk bersabar dan tekun atau meninggalkan gerakan.

Pendekatan Imam Hasan ini bertujuan untuk menetralkan nasionalisme lokal dengan mempertimbangkan semua orang Islam untuk menjadi satu tanah air Islam (Wathan). Jika tidak dalam satu negara Islam, maka alternatifnya adalah sebuah asosiasi negara-negara Muslim (Hayatu Ummam Islamiah). Sikap ini disejajarkan dengan sikap Imam Hasan Al-Banna yang berusaha untuk mengecilkan arti perbedaan antara kelompok-kelompok Islam.

a. Hasan Al- Banna memandang Islam dan Politik

Hasan Al-Banna adalah seorang mujahid dakwah yang tidak hanya mewariskan Ikhwanul Muslimin yang kini menjadi gerakan Islam terbesar di dunia. Ia juga mewariskan pemikiran-pemikiran yang sangat berharga bagi dunia Islam, tidak hanya bagi Ikhwan. Kontribusi pemikirannya telah memenuhi ruang sejarah tersendiri yang sampai kini terus dikaji dan diadopsi banyak gerakan Islam. Begitupun pemikirannya dalam bidang politik.

Melalui buku At-Tarbiyah As-Siyasiyah Inda Hasan Al-Banna, yang diterjemahkan menjadi Tarbiyah Politik Hasan Al-Banna ini, Dr. Yusuf Qardhawi mengupas dimensi aspek politik yang orisinil dan detail tentang aspek politik dalam metode tarbiyah yang digagas oleh Hasan Al-Banna. Buku yang diterbitkan dalam rangka memperingati seratus tahun kelahiran Hasan Al-Banna ini diselesaikan Dr. Yusuf Qardhawi dengan terlebih dahulu mengkaji perkataan Hasan Al-Banna melalui berbagai kumpulan risalahnya, kemudian melakukan muqaranah (komparasi) antara perkataan Hasan Al-Banna satu sama lain, dan metode an-naqd al-‘ilmi al-maudhu’i (kritik ilmiyah tematik). Dengan metode itu, Dr. Yusuf Qardhawi mendapatkan kesimpulan 8 pilar tarbiyah politik Hasan Al-Banna dan ia berbeda pendapat serta mengkritisi Hasan Al-Banna pada pilar ketujuh.[3]

Delapan pilar itu adalah:

1.Memadukan antara Islam dan politik (agama dan negara)

2.Membangkitkan kesadaran wajib membebaskan tanah air Islam

3.Membangkitkan kesadaran wajib mendirikan pemerintahan islami

4.Menegakkan eksistensi umat Islam

5.Menyadarkan kewajiban persatuan Islam

6.Menyambut sistem perundang-undangan

7.Mengkritisi multipartai dan kepartaian

8.Melindungi kelompok minoritas dan unsur asing

1. Memadukan antara Islam dan politik (agama dan negara)

Hasan Al-Banna berusaha keras mengajarkan umat Islam tentang syumuliyatul Islam (kesempurnaan Islam). Apalagi di awal dakwahnya, masyarakat Mesir masih memahami Islam secara parsial. Bahwa Islam adalah rukun iman dan rukun Islam. Sementara politik, pendidikan, ekonomi, dan lain-lain tidak masuk dalam urusan din Islam.

Hasan Al-Banna dalam banyak kesempatan sangat menekankan pentingnya kembali pada syumuliyatul Islam. Begitupun beliau mencantumkan pembahasan ini di awal ushul isyrin (20 prinsip pokok Ikhwanul Muslimin dalam memahami Islam). Dalam lingkup inilah dakwah Hasan Al-Banna berada. Ia ingin menghilangkan pemikiran sempit yang mengurung Islam dalam ritual tertentu. Ia ingin membina umat Islam dengan pemahaman dan cakrawala luas yang bisa menggiring terbentuknya pribadi Islam yang diidam-idamkan.

 

  1. 2.      Membangkitkan kesadaran wajib membebaskan tanah air Islam

Inilah pilar kedua dalam tarbiyah politik Hasan Al-Banna. Memperkuat kesadaran dan memicu sentimen wajib membebaskan tanah air Islam dari penjajahan dan penguasaan asing. Meskipun saat itu Mesir sendiri masih berada di bawah penguasaan Inggris, Hasan Al-Banna juga berpikir jauh ke negara-negara lain yang harus dibebaskan dari penjajahan dan penguasaan asing, termasuk Indonesia. Tentu saja ini adalah implikasi dari pemahaman bahwa umat Islam adalah satu tubuh dan tanah air Islam tidak dibatasi oleh sekat-sekat geografis, melainkan seluruh bumi di mana di atasnya dikumandangkan syahadat.

Upaya menyadarkan umat ini juga ditunjukkan secara faktual dengan keterlibatan Ikhwan mengusir penjajah dari Mesir dan Sudan, pengiriman mujahidin ke Palestina, sampai menekan pemerintah agar mendukung kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

  1. 3.      Membangkitkan kesadaran wajib mendirikan pemerintahan islami

Pilar yang kedua di atas sebenarnya hanyalah sarana. Tujuan utamanya adalah menegakkan eksistensi umat Islam agar hidup dengan aqidah dan syariat Islam. Untuk itu, setelah membebaskan negara dari penjajahan dan penguasaan asing, target berikutnya adalah mendirikan pemerintahan yang islami.

Eksistensi umat Islam tidak bisa tegak kecuali jika belenggu penjajahan di segala aspek, baik ekonomi, politik, undang-undang, dan sebagainya bisa dibebaskan, lalu diatur dengan sistem Islam. Dari sini kita mengetahui, bahwa mendirikan pemerintahan Islami merupakan kewajiban, sekaligus kebutuhan yang mau tidak mau harus ditunaikan. Atas dasar inilah sampai saat ini Ikhwan di berbagai negara berupaya merealisasikan tarbiyah politik Hasan Al-Banna untuk mendirikan pemerintahan islami baik dengan mendirikan partai politik atau metode lain. Namun demikian, mendirikan pemerintahan Islami ini bukan hanya tugas Ikhwan dan siapapun yang berhasil mendirikan perlu didukung bersama

  1. 4.      Menegakkan eksistensi umat Islam

Pilar keempat dari tarbiyah politik Hasan Al-Banna adalah menegakkan eksistensi umat Islam agar mampu mengatur kehidupan masyarakat Islam di wilayah negaranya dan juga dunia internasional dalam satu ikatan di bawah panji Islam.

Islam telah membuktikan tegaknya eksistensi umat dalam skala besar, mengumpulkannya dengan aqidah yang satu, syariat yang satu, nilai-nilai yang sama, adab yang sama, pemahaman dan syariah yang sama serta dalam satu kiblat. Cukuplah mempersatukan umat dengan tiga perkara: pertama, kesatuan referensi (wihdatul maraji’iyah), semuanya berhukum dengan syariah Islam yang bersandar pada Al-Qur’an dan Sunnah; kedua, kesatuan tanah air Islam (wihdatu darul Islam), meskipun terdiri dari banyak negara yang jaraknya berjauhan; ketiga, kesatuan kepemimpinan (wihdatul qiyadah as-siyasiyah), yang diwujudkan dengan khalifah sebagai pemimpin tertinggi.

 

  1. 5.      Menyadarkan kewajiban persatuan Islam

Pilar kelima ini melengkapi pilar keempat, yaitu membangun kesadaran wajib mempersatukan umat. Pilar ini merupakan tuntutan wajib dalam Islam sekaligus tuntutan aksiomatik secara duniawi. Dalam hal ini tidak ada kontradiksi antara persatuan Islam dan nasionalismeyang kita kenal. Persatuan Islam juga tidak menganulir paham kebangsaan atau kesukuan. Dalam risalah dakwatuna, Hasan Al-Banna telah menjelaskan bagaimana sikapnya terhadap berbagai paham termasuk nasionalisme dan kebangsaan. Meskipun istilahnya sama, tetapi ada berbagai varian yang dimaksudkan dengan satu istilah itu. Dan karenanya, kita tidak boleh menggeneralisasinya.

  1. 6.      Menyambut Sistem Undang-undang dan Parlementer

Terkadang sebagian orang dan sebagian ikhwan mendengarkan slogan “Al-Qur’an dusturuna” itu artinya mereka menolak hukum positif apapun. Akan tetapi sebenarnya, yang dimaksud dengan slogan itu adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan tertinggi, kepadanyalah kita kembalikan segala urusan. Maka aturan-aturan di bawahnya tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an.

Dengan demikian, boleh bagi umat Islam untuk membuat aturan-aturan yang lebih detail yang merupakan pejabaran dari Al-Qur’an untuk diimplementasikan dalam kehidupan praktis, serta aturan-aturan detail lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan Aqidah dan syariat Islam.

   7. Mengkritisi Multipartai dan Kepartaian[4]

Pilar ke-7 dari tarbiyah politik Hasan Al-Banna adalah ketidaksetujuannya dengan partai-partai yang ada di Mesir saat itu serta ketidaksetujuannya terhadap multipartai. Hasan Al-Banna melihat bahwa banyaknya partai justru membawa mafsadat bagi umat karena yang terjadi adalah perpecahan umat akibat sikap fanatik pada partai. Di samping itu, partai-partai yang ada juga tidak mewakili umat secara benar, bahkan cenderung dibangun hanya untuk meraih kekuasaan tanpa memiliki basis ideologi Islam. Tidak banyak perbedaan program dari semua partai, tetapi semuanya ingin berkuasa dan mendapatkan keuntungan materi. Karenanya, Hasan Al-Banna lebih setuju pada konsep partai tunggal agar rakyat -Mesir khususnya, saat itu- bisa bersatu dan lebih mudah mencapai tujuan.

Pada pilar ke-7 inilah Dr. Yusuf Qardhawi berbeda pendapat dengan Hasan Al-Banna. Karena partai tunggal justru mendatangkan madharat yang lebih besar bagi umat, terutama munculnya dikatorisme seperti yang kemudian terjadi di Mesir saat Gamal Abdul Naser melancarkan revolusi lalu menghapus partai-partai dan menghimpun rakyat di bawah jargon “persatuan nasional”. Faktor ini mungkin belum disadari oleh Hasan Al-Banna sebelumnya. Meski demikian, Hasan Al-Banna telah mendapatkan pahala atas ijtihadnya, insya Allah.

  1. 8.      Perlindungan bagi Kaum Minoritas dan Orang Asing

Inilah pilar ke-8 tarbiyah politik Hasan Al-Banna. Dan memang inilah Islam. Ia rahmatan lil ‘alamin. Islam pada dasarnya melindungi siapa saja yang tidak memusuhi Islam. Apalagi jika pihak non muslim itu tunduk di bawah naungan negara Islam. Ini sangat berbeda dengan paham kelompok-kelompok garis keras yang cenderung mengambil langkah kekerasan sebagai prioritas utama dalam bersikap menghadapi orang asing.

Dalam fakta sejarah, kita telah mendapatkan perlindungan Nabi kepada kaum Yahudi Madinah, perlindungan Umar pada Nasrani Palestina, juga perlindungan Shalahudin Al-Ayubi pada Nasrani Palestina, dan lain-lain. Saat Islam memegang kekuasaan, kaum minoritas akan terlindungi, karena Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Wallaahu a’lam bish shawab. [Muchlisin]

 

  1. b.      Karakteristik Masyarakat Muslim Perspektif Hasan Al-Banna.

Hasan Al-Banna merujuk kepada pendapat Sayid Qutub tentang karakteristik Masyarakat muslim, ia berpendapat bahwa karakteristik masyarakat muslim adalah : Ia berdiri di atas landasan aqidah, yang terefleksikan pada peribadahan kepada Allah swt. Semata dalam keyakinan, simbol-simbol keislaman, dan ibadah individunya, juga dalam peraturan dan undang-undangnya. Ideologi adalah fondasi, yang oleh Islam diletakkan sebagai dasar dari pilar-pilar lainnya seperti kelas sosial, kepentingan ekonomi, atau lainnya. Karakter ini merupakan hal yang membedakan antara masyarakat muslim dengan masyarakat lainnya.Kemudian Hasan Al-Banna menggambarkan perubahan sosial dengan melihat urgennya asas-asas masyarakat muslim sebagai dasar reformasi sosial.

Hasan Al-Banna menjelaskan tentang asas-asas yang di atasnya tertegak masyarakat muslim, yang dianggapnya sebagai dasar-dasar reformasi sosial yang lengkap, yaitu :

1.      Memperhatikan aspek moral dan melindungi masyarakat dari tindak kriminal dan kemungkaran.

2.      Memperhatikan keluarga dan mendudukkan status perempuan secara proporsional.

3.      Menekankan kesetiakawanan, solidaritas sosial dengan berbagai jenisnya, juga persatuan.

4.      Tanggung jawab negara kepada Islam dan dakwah Islam.

5.      Pemberian tanggung jawab reformasi sosial kepada individu.

Hasan Al-Banna menggambarkan kekhasan masyarakat muslim, secara otomatis, proses pembentukannya juga bersifat khas. Yaitu dengan cara mewujudkan adanya kelompok manusia yang menerima aqidah Islam dan mengakui bahwa ia tidak beribadah kepada selain Allah, baik dalam kayakinan, ibadah, Syi’ar, aturan, maupun undang-undang. Kelompok ini melaksanakan dengan nyata dalam perjalanan hidupnya secara keseluruhan, berdasarkan asas ini. Ketika itu, terjadilah kelahiran atau pembentukan masyarakat baru. Unsur-unsur dari hal itu adalah, pertama, sekelompok manusia. Kedua, terdidik di atas aqidah. Ketiga, kehidupannya diatur dengan landasan aqidah, seutuhnya.Sehingga Hasan al-Banna menekankan pendidikan (tarbiyah) adalah jalan utama (thariq asasi) untuk mewujudkan masyarakat muslim.

 

  1. c.       Konsepsi tentang Pemerintahan dan Kekuasaan Negara Hasan Al-Banna (Ikhwanul Muslimin)

Sikap pemikiran Hasan Al-Banna (ikhwanul Muslimin) terhadap pemerintahan, berkaitan erat dengan pemahaman akan esensi Islam dan Aqidahnya. Islam-sebagimana yang dipersepsikan Ikhwanul Muslimin-menjadikan pemerintahan sebagai salah satu pilarnya.Ikhwan memandang bahwa pemerintahan Islam memiliki kaidah-kaidah yang tercermin dalam ulasan Al-Banna – ketika membicarakan tentang problematika hukum di mesir dan bagaimana memecahkannya-berupa karakteristik atau pilar-pilar pemerintahan Islam. Ia berpendapat bahwa pilar-pilar itu ada tiga, yaitu :

1.Tanggung jawab pemerintah, dalam arti bahwa ia bertanggungjawab kepada Allah dan rakyatnya. Pemerintahan, tidak lain adalah praktek kontrak kerja antara rakyat dengan pemerintah, untuk memelihara kepentingan bersama.

2.Kesatuan umat. Artinya, ia memiliki sistem yang satu, yaitu Islam. Dalam arti, ia harus melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan nasihat.

3. Menghormati aspirasi rakyat. Artinya, di antara hak rakyat adalah mengawasi para penguasa dengan pengawasan yang seketat-ketatnya, selain memberi masukan tentang berbagai hal yang dipandang baik untuk mereka. Pemerintah harus mengajak mereka bermusyawarah, menghormati aspirasi mereka, dan memperhatikan hasil musyawarah mereka.

Hasan Al-Banna (ikhwanul Muslimin) menggambarkan sifat-sifat pemerintahan islam dalam prinsip yang diberi nama ”Teori Pembatasan Kekuasaan Pemerintah” yang diungkapkan oleh Audah. Disebutkan bahwa pemerintahan islam didasarkan kepada tiga prinsip utama, yaitu:

1.Menentukan batas-batas kekuasaan pemerintah. Penguasa tidak boleh melanggarnya, dan jika melakukan pelanggaran itu, kerjanya dianggap tidak sah. Kekuasaanya dibatasi dengan berbagai komitmen dan kewajiban yang telah digariskan. Ia harus mengikuti syariat yang tidak membolehkan penguasa kecuali hal-hal yang dibolehkan untuk setiap indivdu, juga mengharamkan untuknya sesutau yang diharamkan atas setiap individu.

2.Pertanggungjawaban pemerintah atas segala pelanggaran dan kesalahannya.

3.Otoritas rakyat untuk menurunkan pejabat. Islam telah menegaskan kekuasaan rakyat atas pemerintah.

Menurut Hasan Al-Banna (Ikhwanul Muslimin) menggambarkan bahwa sumber kekuasaan adalah satu, yaitu kehendak rakyat, kerelaan dan pilihan mereka secara bebas dan suka rela. Artinya, ikhwan meyakini bahwa rakyat adalah sumber kekuasaan.

Hasan Al-Banna berpendapat bahwa sistem politik atau pemerintahan diselenggarakan sesuai dan dalam kerangka landasan-landasan tertentu yaitu, Syura (musyawarah), hurriyah (kebebasan), musawah (persamaan), ’adl (keadilan), ta’ah (kepatuhan), dan amar ma’ruf nahi munkar. Hasan Al-Banna berpendapat bahwa anggota syuro terdiri atas, pertama, para ahli fiqh yang mujtahid, yang pernyataan-pernyataannya diperhitungkan dalam fatwa dan pengambilan hukum. Kedua, pakar yang berpengalaman dalam urusan publik. Ketiga, Semua orang memiliki kepemimpinan terhadap orang lain. Mereka ini disebut dengan ahlul halli wal ’aqdi. [5]

 

III. PEMIKIRAN POLITIK HASAN AL – BANNA

Di setiap tempat selalu ada pemikir dalam bidang politik dalam skala yang berbeda. Dalam skala Timur Tengah, pemikiran politik dari Mesir Kuno hingga Mesir Modern memiliki pengaruh bagi wilayah, bahkan lintas daerah. Nasionalisme Arab, sebagai salah satu contoh selain tentang Zionisme dan ideologi kiri Islam, menurut A. Rahman Zainuddin adalah jenis pemikiran yang dianggap sangat menentukan dewasa ini

Di Mesir, menurut Yusuf al-Qaradhawi, sebelum adanya dakwah Hasan al-Banna dan lembaga pendidikan yang beliau dirikan, aspek politik tidak mendapatkan perhatian sama sekali oleh masyarakat Islam. Dari sini kemudian terjadi dikotomi antara seorang agamis dan seorang politisi. “Seorang agamis,” tulis ulama yang kini bermukin di Qatar itu, “dilarang berkecimpung dalam masalah politik,” sebaliknya juga, “seorang politisi dilarang berkecimpung dalam masalah agama.”

Hasan al-Banna sebagai salah satu tokoh pergerakan Islam yang memiliki pengaruh di Mesir, bahkan dunia Islam memiliki pemikiran dan praksis dalam kancah politik. Pemikiran politik Hasan al-Banna, setidaknya ada empat hal, yaitu: ‘Urubah (Arabisme), Wathaniyah (Patriotisme), Qaumiyah (Nasionalisme), dan ‘Alamiyah (Internasionalisme).[6]

a.      ‘Urubah (Arabisme)

Arabisme memiliki tempat tersendiri dan peran yang berarti dalam dakwah Hasan al-Banna. Bangsa Arab adalah bangsa yang pertama kali menerima kedatangan Islam. Dia juga merupakan bahwa yang terpilih. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, “Jika bangsa Arab hina, maka hina pulalah Islam.” Arabisme menurut al-Banna adalah kesatuan bahasa. Ia berkata dalam Muktamar Kelima Ikhwan,“…Bahwa Ikhwanul Muslimin memaknai kata al-‘Urubah (Arabisme) sebagaimana yang diperkenalkan Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dari Mu’adz bin Jabal ra, Ingatlah, sesungguhnya Arab itu bahasa. Ingatlah, bahwa Arab itu bahasa.”

Menurut al-Banna, Arab adalah umat Islam yang pertama, yang merupakan bangsa pilihan. Islam, menurutnya, tidak pernah bangkit tanpa bersatunya bangsa Arab. Batas-batas geografis dan pemetaan politis tidak pernah mengoyak makna kesatuan Arab dan Islam. Islam juga tumbuh pertama kali di tanah Arab, kemudian berkembang ke berbagai bangsa melalui orang-orang Arab. Kitabnya datang dengan bahasa Arab yang jelas, dan berbagai bangsa pun bersatu dengan namanya.

Dalam riwayat Ibnu Asakir, dengan sanad dari Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan itu satu, bapak itu satu, dan agama itu satu. Bukanlah Arab di kalangan kamu itu sebagai bapak atau ibu. Sesungguhnya, Arab itu adalah lisan (bahasa), maka barangsiapa yang berbicara dengan bahasa Arab, dia adalah orang Arab.”

Dalam hadits ini, tulis Hasan al-Banna, kita mengetahui bahwa bangsa-bangsa Arab yang membentang dari Teluk Persi sampai Maroko dan Mauritania di Lautan Atlantik, semuanya adalah bangsa Arab. Mereka dihimpun oleh akidah serta dipersatukan oleh bahasa dan teritorial yang satu. Tidak ada yang memisahkan dan membatasinya. Menurut al-Banna, ketika kita beramal untuk Arab, berarti kita juga beramal untuk Islam dan untuk kebaikan dunia seisinya
Atas dasar ini, menurut Abdul Hamid al-Ghazali, dalam bukunya Meretas Jalan Kebangkitan Islam, kita dapat menyimpulkan beberapa unsur dari pemikiran al-Banna bahwa berbangga dengan Arabisme tidak termasuk fanatisme dan tidak berarti merendahkan pihak lain.Arabisme dengan tujuan untuk membangkitkan Islam demi tersebarnya Islam adalah dibolehkan.

b.      Wathaniyah (Patriotisme)

Banyak definisi tentang patriotisme. Ada yang menyebut sebagai kecintaan yang mendalam terhadap bangsa, negara dan tanah air. “Man who have offered their life for their country, know that patriotism is not the fear of something, it is the love of something,” demikian salah satu definisinya.
Dalam memaknai Wathaniyah (patriotisme), ada tiga arti yang dikemukakan oleh Hasan al-Banna, yaitu: Pertama, Patriotisme Kerinduan (Cinta Tanah Air). Al-Banna berkata: “Jika yang dimaksud dengan patriotisme oleh para penyerunya adalah cinta negeri ini, keterikatan padanya, kerinduan padanya, dan ikatan emosional dengannya, maka hal itu sudah tertanam secara alami dalam fitrah manusia di satu sisi, dan dianjurkan Islam di sisi lainnya.” Kedua, Patriotisme Kemerdekaan dan Kehormatan (Kemerdekaan Negeri). Al-Banna berkata: “Jika yang mereka maksudkan dengan patriotisme adalah keharusan berjuang untuk membebaskan tanah air dari cengkeraman perampok imperialis, menyempurnakan kemerdekaannya, dan menanamkan kehormatan diri dan kebebasan dalam jiwa putra-putra bangsa, maka kami sepakat dengan mereka tentang itu.” Ketiga, Patriotisme Kebangsaan (Kesatuan Bangsa). Al-Banna berkata: “Jika yang mereka maksudkan dengan patriotisme adalah mempererat ikatan antara anggota masyarakat suatu Negara dan membimbingnya ke arah memberdayakan ikatan itu untuk kepentingan bersama, maka kami pun sepakat dengan mereka.”

Patriotisme juga memiliki prinsip di mata Hasan al-Banna. Ia mengatakan: “Suatu kekeliruan bagi orang-orang yang menyangka bahwa Ikhwanul Muslimin berputus asa terhadap kondisi negeri dan tanah airnya. Sesungguhnya kaum Muslimin adalah orang-orang yang paling ikhlas berkorban bagi negara, habis-habisan berkhidmat untuknya, dan menghormati siapa saja yang mau berjuang dengan ikhlas dalam membelanya. Dan anda tahu sampai batas mana mereka menegakkan prinsip patriotisme mereka, serta kemuliaan macam apa yang mereka inginkan bagi umatnya. Hanya saja, perbedaan prinsip antara kaum muslimin dengan kaum yang lainnya dari para penyeru patriotisme murni adalah bahwa asas patriotisme Islam adalah akidah Islamiyah…Adapun tentang patriotisme Ikhwanul Muslimin, cukuplah bahwa mereka menyakini dengan kukuh bahwa sikap acuh terhadap sejengkal tanah yang ditinggali seorang muslim yang terampas merupakan tindakan kriminal yang tidak terampuni, hingga dapat mengembalikannya atau hancur dalam mempertahankannya. Tidak ada keselamatan bagi mereka dari siksa Allah kecuali dengan itu.”

Al-Banna juga mengkiritik pandangan tentang patriotisme yang hanya berpikir untuk membebaskan regionalnya saja. Seperti dalam kasus masyarakat Barat yang lebih cenderung pada pembangunan unsur fisik dalam tatanan kehidupannya, ini tidak dikehendaki oleh Islam. Adapun kami, kata beliau, “kami percaya bahwa di pundak setiap muslim terpikul amanah besar untuk mengorbankan seluruh jiwa, darah, dan hartanya demi membimbing umat manusia menuju cahaya Islam.” Dari sini, kita mendapatkan gambaran bahwa tujuan hidup seorang muslim tidaklah hanya dibatasi oleh region-region tertentu, akan tetapi dalam skala yang lebih luas adalah untuk seluruh umat manusia.                

c.       Qaumiyah (Nasionalisme)

Menurut Ensiklopedia Wikipedia, Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Menurut Hasan al-Banna ada tiga unsur nasionalisme, yaitu: nasionalisme kejayaan, nasionalisme umat, dan berkata tidak pada nasionalisme jahiliyah.

Tentang nasionalisme kejayaan, Al-Banna mendukung nasionalisme yang berarti bahwa generasi penerus harus mengikuti jejak para pendahulunya dalam mencapai kejayaannya. Ini adalah maksud yang baik, menurutnya dan mendukung. Hal ini sejal dengan sabda Rasululllah Saw yang berbunyi, “Manusia seperti tambang. Yang terbaik di antara mereka di masa jahiliahnya adalah juga yang terbaik di masa Islam, jika mereka memahami.”

Menurutnya, jika yang dimaksud dengan nasionalisme adalah anggapan bahwa suatu kelompok etnis atau sebuah komunitas masyarakat adalah pihak yang paling berhak memperoleh kebaikan-kebaikan yang merupakan hasil perjuangannya, maka ia benar adanya. Jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme adalah bahwa setiap kita dituntut untuk bekerja dan berjuang, bahwa setiap kelompok harus mewujudkan tujuannya hingga kita bertemu—dengan izin Allah—di medan kemenangan, maka inilah pengelompokan terbaik. Semua makna nasionalisme ini adalah indah dan mengagumkan, tidak diingkari oleh Islam. Itulah tolak ukur terbaik menurut al-Banna.

Nasionalisme Islam bersumber dari hadits Nabi: “Orang muslim itu saudara muslim yang lain.” Sedangkan sabdanya yang lain mengatakan: ”Orang-orang muslim itu satu darah, orang-orang yang berada di atas bekerja untuk menyantuni yang lain, dan mereka bersatu untuk melawan musuhnya.”Ini berarti bahwa nasionalisme Islam tidak terbatas pada negara saja.

Islam datang untuk menghapus budaya jahiliyah. Nasionalisme yang jahiliyah haruslah ditinggalkan oleh umat Islam. Ia berkata bahwa jika yang dimaksudkan dengan nasionalisme adalah menghidupkan tradisi jahiliyah yang sudah lapuk, menegakkan kembali peradaban yang telah terkubur dan digantikan oleh peradaban baru yang telah eksis dan bermanfaat, atau melepaskan dirinya dari ikatan Islam dengan klaim demi nasionalisme dan harga diri kebangsaan, maka pengertian nasionalisme seperti ini adalah buruk, hina akibatnya, dan jelek kesudahannya.

d.       ‘Alamiyah (Internasionalisme)

Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an surat al-Anbiya ayat 107: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”  Ayat ini berarti bahwa diutusnya nabi Muhammad Saw adalah ditujukan untuk seluruh umat manusia dari seluruh suku bangsa. ”Rahmatan Lil’Alamin” adalah konsep yang menjelaskan tentang internasionalisme Islam yang tidak mengenal sekat-sekat teritori.

Jika internasionalisme diterjemahkan dengan “Pemerintahan Dunia”, maka pengertiannya yang bisa diberikan adalah “Sebuah kesatuan  pemerintahan dengan otoritas mencakup planet Bumi.Tidak pernah ada satu Pemerintahan Dunia yang pernah terjadi sebelumnya, meskipun kerajaan besar dan superpower telah mendapatkan tingkatan kekuasaan yang mirip. Contoh sejarah telah dihambat oleh kenyataan bahwa komunikasi dan perjalanan yang tak memungkinkan membuat organisasi dunia ini tidak terjadi. Beberapa internasionalis mencari pembentukan pemerintahan dunia sebagai cara mendapatkan kebebasan dan sebuah peraturan hukum di seluruh dunia. Beberapa orang khawatir bahwa pemerintah dunia harus dapat menghormati keragaman negara atau manusia yang tercakup di dalamnya. Dan di sisi lain memandang ide ini sebagai sebuah kemungkinan mimpi buruk, dalam dunia yang kacau pemerintah berusaha menciptakan negara totalitarian yang tak berakhir tanpa ada kemungkinan untuk kabur atau revolusi.

Internasionalisme menurut Hasan al-Banna inheren dalam Islam, oleh karena Islam adalah agama yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia. “Adapun dakwah kita disebut internasional, karena ia ditujukan kepada seluruh umat manusia. Manusia pada dasarnya bersaudara; asal mereka satu, bapak mereka satu, dan nasab mereka pun satu. Tidak ada keutamaan selain karena takwa dan karena amal yang dipersembahkannya, meliputi kebaikan dan keutamaan yang dapat dirasakan semuanya,” demikian tulisnya.

Konsep internasionalisme merupakan lingkaran terakhir dari proyek politik al-Banna dalam program ishlahul ummah (perbaikan umat). Dunia, tidak bisa tidak, bergerak mengarah ke sana. Persatuan antar bangsa, perhimpunan antar suku dan ras, bersatunya sesama pihak yang lemah untuk memperoleh kekuatan, dan bergabungnya mereka yang terpisah untuk mendapatkan hangatnya persatuan, semua itu merupakan pengantar menuju terwujudnya kepemimpinan prinsip internasionalisme untuk menggantikan pemikiran rasialisme dan kesukuan yang diyakini umat manusia sebelum ini. Dahulu memang harus meyakini ini untuk menghimpun unsur-unsur dasar, lalu harus dilepaskan kemudian untuk menggabungkan berbagai kelompok besar, setelah itu terwujudlah kesatuan total di akhirnya. Langkah ini, menurutnya memang lambat, namun itu harus terjadi.

Untuk mewujudkan konsep ini juga Islam telah menyodorkan sebuah penyelesaian yang jelas bagi masyarakat untuk keluar dari lingkaran masalah seperti ini. Langkah pertama kali yang dilakukan adalah dengan mengajak kepada kesatuan akidah, kemudian mewujudkan kesatuan amal. Hal ini sejalan dengan ayat dalam al-Qur’an surat Asyura 13: “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nabi Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Nabi Ibrahim, Musa dan Isa yaitu ‘Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.”

Dalam Risalah Pergerakan, Hasan al-Banna berharap pada negerinya yaitu Mesir yang mendukung upaya dakwah Islamiyah, menyatukan seluruh bangsa Arab untuk kemudian melindungi seluruh kaum muslimin di penjuru bumi.Namun, harapan ini tetaplah belum membuahkan hasil maksimal karena sejak Hasan al-Banna wafat sampai sekarang Mesir belum menjadi sentrum dari kesatuan umat Islam sedunia. Malah, pada beberapa kasus, seperti masalah invasi Israel ke Gaza Palestina (2009), Mesir banyak mendapat kecaman karena tidak kooperatif dengan aktivis pergerakan Islam namun dekat dan bahkan pada titik tertentu, mendapatkan intervensi dari Barat.

Hasan Al-Banna dan “Teori Maslahat”

Dalam empat pemikiran politik Hasan al-Banna diatas, kita menemukan bahwa kemaslahatan sangat ditekankan oleh al-Banna. Ini didasarkan oleh tafsirannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang menghendaki umat Islam untuk tampil ke muka bumi sebagai khalifah untuk menciptakan masyarakat yang ber-Tauhid Islam. Dengan demikian, segala hal yang bisa mendatangkan kebaikan, itu dibolehkan dalam agama.

Hasan al-Banna meyakini bahwa Islam adalah ajaran yang universal. Menurutnya, “Islam adalah agama dan sistem kehidupan yang utuh sekaligus memuat di dalamnya aspek politik.” Islam, menurutnya, adalah akidah dan ibadah, negara dan kewarganegaraan, moral dan material, peradaban dan perundang-undangan. Tokoh Islam dari Mesir itu berkata, “Sebagai hasil pemahaman yang komprehensif dan utuh terhadap Islam dalam diri Ikhwanul Muslimin ini, fikrah mereka melingkupi seluruh perbaikan masyarakat dan tercermin di dalamnya setiap unsur dari berbagai pemikiran dalam rangka perbaikan (maslahat).”

Dari kutipan di atas kita melihat bahwa faktor kemaslahatan menjadi perhatian penting dalam pemikiran Hasan al-Banna. Konsep ‘Urubah (Arabisme) yang dikemukakannya adalah karena dalam sebagai muslim, ia berpatokan pada ketentuan dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad Saw. Konsep ini dilontarkan olehnya karena melihat secara faktual bahwa orang Arab adalah bangsa pilihan tempat diturunkannya para nabi dan al-Qur’an dalam bahasa Arab. Dengan demikian, siapapun kaum muslim yang ingin mempertahankan Islam patut memberikan penghargaan kepada bangsa Arab, dalam batas-batas yang tidak keluar dari ajaran Islam. Lebih jauh dalam masalah Arab ini, ke-Araban juga tidak dimaknai semata sebagai sebuah suku di daerah Arab, akan tetapi secara umum umat Islam yang juga mempelajari bahasa Arab. Hadits Nabi tentang “Ingatlah, sesungguhnya Arab itu bahasa. Ingatlah, bahwa Arab itu bahasa”, bermakna bahwa siapapun umat Islam yang mempelajari al-Qur’an yang notabene berbahasa Arab, termasuk dalam Islam yang perlu membela Arab.

“Jika bangsa Arab hina, hina pulalah Islam, “ yang dikemukakan oleh al-Banna semata karena penghargaannya kepada bangsa Arab yang telah menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Dalam hal Wathaniyah (Patriotisme), kerinduan akan tanah air tempat manusia dibesarkan adalah sesuatu yang alamiah dalam fitrah manusia. Artinya, kecintaan pada negeri sendiri adalah bagian dari kepedulian umat Islam terhadap lingkungannya. Tujuan utama dari patriotisme ini, menurut al-Banna adalah untuk membimbing umat manusia menuju cahaya Islam, lain dari itu (seperti hanya mementingkan aspek-aspek fisik di Eropa), bertentangan dengan Islam. Dilihat dari kacamata Ibnu Qayyim, cinta pada negeri demi kemaslahatan negeri itu sendiri, termasuk dalam agama.

Dalam membahas Qaumiyah (Nasionalisme), al-Banna menfokuskan pada sikap loyal (wala’)pada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Dalil yang dikemukakannya, salah satunya adalah, “Sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 257. Dengan demikian, jika ada orang-orang beriman yang berjuang untuk kemajuan negerinya agar dakwah Islamiyah berkembang, maka itu termasuk dalam perlindungan Allah. Nasionalisme ala al-Banna juga memposisikan diri secara diametral dengan nasionalisme ala Jahiliyah yang sarat dengan muatan pengagungan nenek moyang tanpa dalil yang pasti atau untuk menanamkan rasa bangga pada jiwa anak-anaknya. [7]

Nasionalisme Islam menurut al-Banna mengandung kemaslahatan karena membawa manusia agar meninggalkan fanatisme buta pada nenek moyang menuju penghambaan kepada Allah. Paganisme yang ada pada peradaban sebelum Islam yang kemudian berkembang dalam banyak bentuk juga ditentang oleh al-Banna. Menjadikan patung-patung, bahkan ideologi hasil pemikiran manusia sebagai sesuatu yang harus diikuti ketimbang dalil dari al-Qur’an dan Sunnah nabi juga ditentang. Al-Banna berkehendak menciptakan umat Islam yang menjalankan seluruh kehidupannya secara kaaffah (menyeluruh) dalam bingkai Islam. Dan, ini termasuk dalam kemaslahatan umat manusia.

Pandangan ‘Alamiyah (Internasionalisme) adalah berdasarkan pada dalil bahwa umat Islam dikeluarkan untuk menjadi “khairu ummah” (umat terbaik) yang Allah utus kepada manusia agar menjalankan kaidah menyeru kepada kebenaran dan mencegah pada yang mungkar. Rasulullah Saw juga diutus Allah untuk seluruh umat manusia (rahmatan lil ‘alamin). Dari perspektif ini, dakwah al-Banna berpatokan pada persaudaraan seluruh umat manusia. Dalil yang diambil oleh al-Banna berladaskan pada ayat, “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa: 1)  

Kemaslahatan internasionalisme ini sekilas memiliki kesamaan dengan konsepsi kaum Zionis yang berupaya menciptakan pemerintahan satu dunia. Akan tetapi, Zionisme lebih menitikberatkan pada penguasaan kaum Yahudi atas kalangan goyyim (non-Yahudi) dengan memperlakukannya sebagai budak. Persaudaraan umat sedunia yang diinginkan oleh al-Banna, adalah karena umat manusia berasal dari satu nenek moyang yaitu Adam as. Selanjutnya, dalam dakwah menuju persaudaraan internasional, harus dijalankan berdasarkan fondasi nilai yang adil dan tidak diskriminatif.Dari sinilah kelak ada mekanisme take and give antar peradaban umat manusia. Unsur kerjasama demi kemaslahatan sangat ditekankan oleh Hasan al-Banna. [8]

Jadi, dilihat dari konsepsi Ibnu Qayyim tentang kemaslahatan, maka pemikiran politik Hasan al-Banna lebih menitikberatkan pada kemaslahatan umat Islam dan umat manusia.

 

IV. Hasan Al-Banna tentang  Lima Babak  Kebangkitan Umat Islam

 

 “Kebangkitan suatu bangsa di dunia selalu bermula dari kelemahan. Sesuatu yang sering membuat orang percaya bahwa kemajuan yang mereka capai kemudian adalah sebentuk kemustahilan. Tapi, di balik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan, dan ketenangan dalam melangkah telah mengantarkan bangsa-bangsa lemah itu merangkak dari ketidakberdayaan menuju kejayaan.” (Hasan Al-Banna; Risalah Ila Ayyu Syain Nad u An-Naas.)

           Dalam sejarah kehidupan bangsa-bangsa, kebangkitan dan kemajuan adalah sebuah keniscayaan yang mesti diyakini. Namun, kelemahan yang sedang mengungkung suatu bangsa seringkali memicu keputusasaan sehingga bayang-bayang ketidakpastian dan kemustahilan menjadi begitu kuat. Realitas kejiwaan masyarakat inilah yang ingin didobrak oleh Hasan Al-Banna, dengan salah satu ungkapannya: “Inna haqaiqa al-yaumi hiya ahlamu al-amsi, wa ahlama al-yaumi haqaiqu al-ghadi (Sesungguhnya kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini akan menjadi kenyataan esok hari).”

Di atas keyakinan ini, Hasan Al-Banna menyodorkan perpektif baru dalam menatap kebangkitan. Bahwa, kehancuran material adalah indikasi fenomenalogis yang zhahir dari kelemahan suatu bangsa, sementara akar penyebab kelemahan yang sebenarnya ada pada kehancuran jiwa masyarakatnya. Ini yang secara kuat dicemaskan oleh Abul Hasan An-Nadwi dengan ucapannya, “Kemanusiaan sedang ada dalam sakratul maut.” (Abul Hasan An-Nadwi, Madza Khasira al-Alam bi Inkhithathi al-Muslimin , 1969). Bahkan, kecemasan dunia modern yang digjaya seperti Amerika misalnya, juga terletak di sini. Laurence Gould pernah mengingatkan publik Amerika, “Saya tidak yakin bahaya terbesar yang mengancam masa depan kita adalah bom nuklir. Peradaban AS hancur ketika tekad mempertahankan kehormatan dan nilai-nilai moral dalam hati nurani warga kita telah mati.” (Hamilton Howze, The Tragic Descent: America in 2020 , 1992).
Dari pemahaman inilah, Hasan Al-Banna menyimpulkan bahwa pilar kekuatan utama untuk bangkit adalah kesabaran (ash-shabru), keteguhan (ats-tsabat), kearifan (al-hikmah), dan ketenangan (al-anat) yang kesemuanya menggambarkan kekuatan kejiwaan (al-quwwah an-nafsiyah) suatu bangsa. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah kondisi kejiwaannya (QS. 13:11)[9]

Transisi politik merupakan titik-berangkat (muntholaq) untuk membangun kembali umat. Kepada para pelaku perubahan (anashir at-taghyir), Hasan Al-Banna mengingatkan dua pandangan dasar (an-nadhoriyah al-asasiyah) yang mesti dipegang teguh. Pertama, sekalipun jalan ini sangat panjang dan berliku, tetapi tidak ada pilihan lain selain ini. Kedua, bahwa seorang pekerja pertama kali harus bekerja menunaikan kewajibannya, baru kemudian boleh mengharap hasil kerjanya.

Dalam proses pembangunan kembali umat, Hasan Al-Banna menyimpulkan adanya lima babak yang akan dilalui. Kesimpulan ini berangkat dari analisa sejarah perjalanan bangsa-bangsa dan upaya memahami arahan-arahan Rabbani (taujihat rabbaniyah). Apa kelima babakan itu?

1. Kelemahan (adh-dho fu).

Faktor utama kelemahan adalah terjadinya kesewenang-wenangan rezim kekuasaan yang tiranik. Kekuasaan inilah yang memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan masyarakat dan memberangus potensi-potensi kebaikannya dengan dalih kepentingan kekuasaan. “Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, membunuh anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang yang membuat kerusakan.” (QS. 28:4) Itulah sebabnya tujuan pertama transisi politik menurut Al-Banna adalah membebaskan umat dari belenggu penindasan dalam kehidupan politik.

2. Kepemimpinan (az-zuaamah).

Sejarah perubahan menunjukkan bahwa upaya bangkit kembali dari kehancuran membutuhkan seorang pemimpin yang kuat. Kepemimpinan ini mesti muncul pada dua wilayah, yaitu pemimpin di tengah-tengah masyarakat (az-zuaamah ad-da wiyah) yang menyeru kepada kebaikan dan pemimpin pemerintahan (az-zuaamah as-siyasiyah) yang sejatinya muncul atau menjadi bagian dari mata rantai barisan penyeru kebaikan itu. “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi஦quot; (QS. 24:55). Ini artinya kekuatan-kekuatan Islam mesti mempersiapkan diri secara sistematis, sehingga masa transisi politik menjadi kesempatan untuk meneguhkan kepemimpinan dakwah dan untuk meraih kepemimpinan politik. Inilah tantangan sekaligus rintangan terberat kaum muslimin pada hari ini.

3. Pertarungan (ash-shiraa u)

Ketika suatu bangsa memasuki masa transisi politik, Al-Banna mengingatkan akan muncul dan maraknya berbagai kekuatan ideologis yang lengkap dengan tawaran sistem dan para penyerunya. Akan terjadi kompetisi terbuka untuk menanamkan pengaruh, meraih dukungan dan memperebutkan kekuasaan.

Ada dua karakter dasar ideologi-ideologi kuffar. Pertama, secara hakiki ia berlawanan dengan ideologi Islam. Dan kedua, untuk menjamin eksistensinya di muka bumi, ideologi-ideologi kuffar itu akan berupaya menghancurkan ideologi Islam. Pertarungan terberat adalah pada upaya untuk membebaskan diri dari mentalitas, sikap, perilaku dan budaya yang sudah terkooptasi oleh ideologi materialisme-sekuler. Pertarungan ini tidak bisa dimenangkan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan bangunan keimanan baru yang memantulkan izzah (harga diri) umat di hadapan peradaban-peradaban kuffar.

4. Iman (Al-Iman)

Pertarungan ideologi di fase transisi menuju kebangkitan adalah masa-masa ujian berat bagi umat. Pertarungan akan memunculkan dua golongan manusia. Pertama, mereka yang tidak istiqamah dengan cita-cita Islam dan menggadaikan perjuangannya demi keuntungan-keuntungan material. Perjuangan bagi mereka adalah bagaimana mengumpulkan sebanyak-banyaknya perhiasan dunia sesuatu yang tidak mereka miliki sebelumnya. Golongan kedua, adalah mereka yang istiqamah dan iltizam dengan garis dan cita-cita perjuangan. Besarnya kekuatan musuh justru menambah keimanan mereka dan semakin mendekatkan diri mereka kepada Allah. Inilah golongan yang sedikit, tapi dijanjikan kemenangan oleh Allah. Proses kebangkitan umat tidak akan berjalan tanpa keberadaan mereka; orang-orang yang akan menorehkan garis sejarah panjang perjuangan yang diliputi berbagai keistimewaan dan keajaiban.
5. Pertolongan Allah (Al-Intishar)

Inilah hakikat kemenangan bagi umat, yaitu ketika Allah swt. telah menurunkan pertolongannya untuk mencapai kemenangan sejati. Kemenangan tidak semata diukur oleh terkalahkannya musuh. Tetapi, kemenangan adalah ketika tangan-tangan Allah ikut bersama kita menghancurkan seluruh kekuatan musuh. Inilah awal tumbuhnya kehidupan baru di mana Allah akan menerangi dengan cahayaNya dan Allah akan menaungi kehidupan umat dengan Keperkasaan dan Kasih-sayangNya. Di sinilah pembalikan keadaan (tabdil) dalam kehidupan akan terjadi. Kemakmuran, keamanan, kedamaian dan keadilan akan menjadi nikmat yang bisa dimiliki setiap makhluk yang mendiami negeri itu. “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang besar.” (QS. Al-Fath: 1-3)

 

V .Karya-karya Hasan Al-Banna

Imam Hasan Al-Banna adalah seorang pendakwah Islam dan juga tokoh pembaharuan. Beliau tidak menurut cara-cara Syed Rasyid Ridha. Hasan Al-Banna himpunkan sekumpulan orang-orang Islam yang berwibawa serta mempunyai kesanggupan untuk hidup dan mati dalam memperjuangkan Islam. Bellau ingin menegakkan cara hidup Islam di Mesir. Lantaran itu, beliau menumpukan lebih banyak masanya di sudut amali gerakannya, iaitu memberi latihan akhlak dan rohani kepada para anggota Ikhwan. Pernah beliau ditanya, ‘Mengapakah awak tidak mengarang buku?’ Imam Hasan Al-Banna menjawab, ‘Saya ‘menulis’ manusia.’ Ini bermakna beliau melatih manusia dari segi akhlak dan ilmu untuk perjuangan Islam. Walau bagaimanapun beliau ada menulis beberapa buah buku berikut:

I ‘Muzakirat ad-Da’awah wa-Dai’yiah’ (Catatan Dakwah dan pendakwah)

Inilah hasil karyanya yang terulung. Buku ini terbahagi kepada dua bahagian.Bahagian pertama menyentuh kehidupan peribadinya dan bahagian kedua pula ialah mengenai kegiatan Ikhwanul Muslimin

II ‘Risaail-Al-Imamu-Syahid.’ Buku ini ialah himpunan beberapa makalah yang disusunnya pada waktu waktu tertentu sepanjang hayatnya. Buku ini terbahagi kepada tajuk-tajuk.

III Syarahan syarahan Imam Hasan AI Banna. Buku ini mengandungi syarahan syarahan dan kuliah-kuliah Hasan Al-Banna.Ia merupakan satu khazanah ilmu.

IV Maqalat Hasan Al-Banna. Buku ini ialah himpunan nasihat nasihat dan arahan arahan Imam Hasan Al-Banna kepada sahabat-sahabat dan para anggota Ikhwanul Muslimin

V Al-Ma’thurat. Buku ini ialah himpunan do’a-do’a dan zikir yang disusun oleh Imam Hasan
Al-Banna sendiri. la dibaca beramai-ramai oleh para anggota Ikhwan sebelum sholat
Maghrib. Ia merupakan pembaharuan ikrar mereka kepada Allah dalam.menjalankan dakwah Islamiah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  III

KESIMPULAN

 

Hassan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin, salah satu dari abad ke-20 terbesar dan paling berpengaruh organisasi Islam revivalis. Kepemimpinan Al-Banna adalah penting bagi pertumbuhan ikhwanul muslimin selama tahun 1930-an dan 1940-an. Seperti banyak orang lain, mereka menemukan bahwa belajar Islam dan kesalehan tidak lagi dihargai di ibukota (akibat paham sekular yang begitu kuat saat itu,paham itu dibawa oleh kolonial inggris untuk merobohkan semangat kaum muslimin), dan bahwa keahlian tidak bisa bersaing dengan industri berskala besar. berdirinya organisasi ikhwaul muslimin bertepatan dengan tanggal 20/maret/1928.

Gerakan Ikhwan Muslimin membawa perubahan hebat kepada Dunia Arab. Ia telah menegakkan semula kebenaran dan kekuatan Islam. Hasan Al-Banna adalah seorang yang berwibawa dan berhati tabah. Beliau memiliki peribadi Muslim sejati. Setiap tindakannya melambangkan ciri-ciri hidup Islam.

Beliau adalah seorang faqih dengan sebenarnya, politikus ulung, memiliki pengalaman yang luas, kejeniusan dan kedudukan yang disaksikan oleh setiap orang yang mengenalnya baik dari musuh maupun teman dalam kadar yang sama. Robert Jackson telah bertemu dengan Ustadz Hasan Al-Banna pada tahun 1946 mengatakan: “Saya memperkirakan akan datang suatu hari yang mana laki-laki ini mengusai kepemimpinan masyarakat, tidak hanya di Mesir, bahkan di seluruh wilayah Timur. Dr. Kamjian, seorang dosen ilmu politik di Universitas New York mengatakan: “Kemunculan Al-Banna merupakan contoh yang melambangkan kepribadian keluarga yang muncul pada waktu-waktu krisis untuk melakukan tugas kebebasan sosial spiritual.
Thanthawi Jauhari berkata: “Dalam pandangan saya, Hasan Al-Banna lebih besar dari Al-Afghani dan Muhammad Abduh. Beliau memiliki temperamen yang menakjubkan yang berupa takwa dan kecerdikan politis, Beliau berhati Ali dan berotak Mu’awiyah. Saya melihat padanya sifat-sifat seorang pemimpin yang mana dunia Islam sedang kehilangan tokoh seperti itu.
Robert Jackson mengatakan tentang kepemimpinan Hasan Al-Banna: “Beliau adalah seorang yang paling jenius di antara para politisi, paling kuat di antara para pemimpin, paling berargumen di antara para ulama, paling beriman di antara para sufi, paling semangat di antara para atlit, paling tajam di antara para filsuf, paling diplomatis di antara para orator, dan paling bermisi di antara para penulis. Masing-masing sisi dari sisi-sisi ini muncul dengan istimewa pada waktu yang pas pula.

Hasan Al-Banna merupakan tokoh kharismatis yang begitu dicintai oleh pengikutnya. Cara memimpin jamaahnya bagai seorang syaikh sufi memimpin tarekatnya. Banna dalam segi gerakan sangat memperhatikan fungsi setiap komponen organisasi. Unit terkecil yakni usrah (keluarga) menurutnya memiliki tiga tiang. Yang pertama adalah saling kenal, yang akan menjamin persatuan. Kedua, anggota usroh harus saling memahami satu sama lain, dengan saling menasehati. Dan yang ketiga adalah memperlihatkan solidaritas dengan saling membantu. Bagi Hasan Al-Banna al-usroh merupakan mikrokosmos masyarakat Muslim ideal, di mana sikap orang beriman terhadap satu sama lain seperti saudara, dan sama-sama berupaya meningkatkan segi religius, sosial, dan kultural kehidupan mereka.

Hasan Al-Banna dengan segala kegigihannya telah berjuang untuk menegakkan tatanan Islam. Ia merupakan figur yang dengan keikhlasannya telah memperjuangkan nilai-nilai Islam. Usahanya yang tak kenal lelah dalam membangun masyarakat muslim yang berawal keluarga dapat menjadi contoh kita membuat gerakan dakwah melalui tatanan sosial yang paling kecil itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sumber buku :

 

Al- ghazali,  Abdul hamid. 2001, Meretas jalan Kebangkitan Islam , Solo: Era Intermedia

Al- bahnasawi , Sali ali. 1995,  Wawasan Sistem Politik Islam , Jakarta : Pustaka Al- Kautsar.

Hanafi , Hasan. 2003,  Aku Bagian dari Fundamentalis Islam , Yogyakarta: Futuh Printika

Mubarok, Jaik. 2004, Sejarah Peradaban Islam , Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Zallum, Abdul Qadum.2001,  Pemikiran Politik Islam, Jawa Timur: Penerbit Izzah.

.

 

Sumber Internet :

 

http://yankoer.multiply.com/journal/item/270/Pemikiran_Politik_Hasan_al-Banna?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

dari http://jurnalpamel.wordpress.com/politik-islam/pemikiran-politik-hasan-al-banna/

http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-hasan-al-banna.html[1] Dikutip dari

 

http://muchlisin.blogspot.com/2010/01/tarbiyah-politik-hasan-al-banna.html

http://santrigenggong.wordpress.com/2011/01/23/politik-islam-seri-pemikiran-politik-hasan-al-banna-lima-babak-kebangkitan-umat/

 

 


[4] Sali ali Al- bahnasawi , 1995 , Wawasan Sistem Politik Islam , Jakarta: Pustaka Al- Kautsar, hal 160

 

[6]  Abdul hamid Al- ghazali,2001,  Meretas jalan Kebangkitan Islam , Solo: Era Intermedia hal 110

 

[7] Abdul hamid Al- ghazal, op, cit, hal 198

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: